Alergi Kalah, Haruskah Paskibra selalu Juara?

Alergi kalah

Saya sering melihat dan mendengar pelatih paski berkata soal cita-citanya memenangkan pasukan yang dilatihnya di sebuah ajang lomba PBB.

Dan mereka tidak main-main, mereka mencari materi-materi tentang cara memenangkan lomba PBB itu dengan internet.

Setelah menemukan sebuah artikel tutorial mereka mencoba mengaplikasikannya. Atau setelah menemukan video variasi yang cocok mereka langsung menjiplaknya.

WAW!

Menjiplaknya.

Tapi saya ndak mau mbahas masalah jiplak-menjiplak ini, saya hanya tertarik tentang mengapa hal ini bisa terjadi.

Dan hal yang paling besar dan paling berpengaruh terhadap tindakan ini adalah alergi kalah.

Kalah itu memalukan.

…katanya.

Kenapa? Karena pasti akan banyak ejekan dari pangkalan lain, kompetitor, rival, atau apalah itu namanya.

Padahal jika kalah hal itu adalah sebuah anugerah.

Anugerah kalah jauh lebih berharga daripada anugerah kemenangan.

Dengan kekalahan, kita sebagai seorang paskibra bisa mengintropeksi diri lebih dalam dan intens ketimbang mereka yang menang.

Sangat sedikit pangkalan yang melakukan intropeksi saat mereka mendapatkan kemenangan.

Saya sering bertanya-jawab dengan diri saya kurang lebih begini.

“Kita sudah menang. Kita sudah dipuncak. Lalu, apa yang kita lakukan setelah ini? Ikut lomba, lomba, dan lomba lagi?

Sampai capek dan hanya berakhir dengan puluhan piala, uang pembinaan, dan kebanggaan yang tidak dapat dijual saat butuh beras? Atau sampai dapat ratusan like, viewers, dan follower di jejaring sosial?”

“Tidak. Jangan begitu. Kita harus mencari sesuatu yang baru dan berjuang kembali dari nol di sana. Apa itu?”

“Pengembangan diri dan pendidikan karakter adek-adek. Ini bisa bermanfaat bagi mereka ke depannya daripada cuma praktek baris. Menang lomba bukan fokus utama lagi.

Karena jikapun menang itu sudah biasa. Ini tahap lanjut setelah selalu menang. Ya, walaupun ini sangat samar dan susah.”

“Beruntung juga, bagi mereka yang belum pernah menang sekalipun. Mereka tidak perlu bingung mau ngapain. Targetnya menang.

Dalam perjalanan mereka ini, mereka lebih banyak belajar ketimbang yang satu dua kali maju sudah bisa mendapat kemenangan.

Dan yang perlu digaris bawahi, apa yang mereka dapatkan selama proses ini adalah anugerah. Tuhan itu adil.”

Hmm. Jangan alergi kalah.

Bagaimana? Masih ingin selalu menang?

Saya rasa masih.

Terserah saja.