Eksistensi Pancasila di Era Sekarang

Eksistensi Pancasila di Era Sekarang

Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1945 dari pemikiran seorang Proklamator, Pancasila terlahir dengan tujuan yang agung. Lima sendi utama penyusun Pancasila tercantum dalam paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar tahun 1945.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah ditentukan oleh para pendiri negara ini. Pancasila haruslah menjadi sebuah acuan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbagai tantangan dalam menjalankan ideologi Pancasila juga tidak mampu untuk menggantikankan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.

Pancasila terus dipertahankan sebagai dasar negara oleh segenap bangsa Indonesia. Itu membuktikan bahwa Pancasila merupakan ideologi yang pas untuk bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, berbagai tantangan di era globalisasi bisa mengancam eksistensi kepribadian bangsa. Dan kini, mau tak mau, suka tak suka, bangsa Indonesia berada di pusaran arus globalisasi dunia.

Tetapi harus diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia jangan sampai kehilangan jatidiri. Kendati hidup ditengah-tengah pergaulan dunia.

Rakyat yang tumbuh di atas kepribadian bangsa asing mungkin saja mendatangkan kemajuan. Tetapi kemajuan tersebut akan membuat rakyat tersebut menjadi asing dengan dirinya sendiri.

Mereka kehilangan jatidiri yang sebenarnya sudah jelas tergambar dari nilai-nilai luhur Pancasila.

Eksistensi Pancasila di Era Globalisasi

Dalam arus globalisasi saat ini, rakyat dan bangsa Indonesia harus membuka diri.

Dahulu, sesuai dengan tangan terbuka menerima masuknya pengaruh budaya hindu, islam, serta masuknya kaum barat yang akhirnya melahirkan kolonialisme.

Pengalaman pahit berupa kolonialisme tentu sangat tidak menyenangkan bahkan dalam ingatan. Patut diingat pula, bahwa pada zaman modern sekarang ini wajah kolonialisme dan imperialisme sudah berubah.

Dalam pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang menutup diri rapat-rapat dari dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan kemajuan bangsa-bangsa lain.

Bahkan, negara sosialis seperti Uni Soviet —yang terkenal anti dunia luar— tidak bisa bertahan dan terpaksa membuka diri. Maka kini, konsep pembangunan yang modern harus bisa membuat bangsa dan rakyat Indonesia terbuka.

Dalam upaya untuk meletakan dasar-dasar masyarakat modern, bangsa Indonesia bukan hanya menyerap masuknya modal, teknologi, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan tetapi juga terbawa masuk nilai-nilai sosial politik yang berasal dari kebudayaan bangsa lain.

Yang terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia bisa menyaring nilai-nilai yang datang agar hanya nilai-nilai baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa saja yang terserap.

Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai apalagi merusak tata nilai budaya nasional mesti ditolak dengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan ini terletak pada Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

Bila rakyat dan bangsa Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa maka nilai dan budaya dari luar yang tidak baik akan tertolak dengan sendirinya.

Cuma, persoalannya, dalam kondisi yang serba terbuka seperti saat ini justru jati diri bangsa Indonesia tengah berada pada titik nadir.

Peran Pancasila di Masa Kini

Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan asing dirinya sendiri sehingga budaya dan nilai-nilai dari luar, baik yang sesuai maupun tidak ditelan mentah-mentah.

Nilai-nilai yang datang dari luar serta-merta dinilai bagus, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam hati sanubari rakyat dinilai usang.

Lihat saja sistem demokrasi yang tengah berkembang di Tanah Air mengarah kepada paham liberalisme. Padahal, Indonesia — seperti ditegaskan dalam pidato Soekarno di depan Sidang Umum PBB — menganut paham demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong royong, kekeluargaan, serta musyawarah mufakat. Eksistensi Pancasila dipertaruhkan.

Sistem politik yang kini berkembang sangat gandrung dengan paham liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik berlandaskan Pancasila yang seharusnya dibangun dan diwujudkan oleh rakyat dan bangsa Indonesia.

Terlihat jelas betapa demokrasi telah diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain.

Budaya dari luar, khususnya paham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan pola hidup yang serba liberal memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup di dalam ketidakpastian.

Akibatnya, seperti terlihat sekarang ini, konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite politik tampak hanya memikirkan perutnya sendiri dan tabungan kelompoknya.

Dalam kondisi seperti itu — sekali lagi — eksistensi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai hal-hal mana saja yang bisa diserap dan disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri.

Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di jalur yang baik untuk bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas tujuan yang hendak dicapai.

Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang persoalan yang dihadapi serta cara mencari solusi dari persoalan tersebut.

  • 1
    Share