Jahatnya Pola Pikir yang Harus Diwaspadai

Jahatnya Pola Pikir yang Harus Diwaspadai

Pagi ini aku punya waktu dan kesempatan nongkrong di warung pinggir jalan yang kini sering jadi tempat tongkronganku.

Seperti biasa, banyak teman bercanda ngalor-ngidul membahas isu terkini.

Aku menikmatinya, namun tiba-tiba hape jadulku berbunyi kembali semenjak event mbak hanna berlalu.

“Hari ini si A menang. Kita kapan bisa menang itu lagi?”, kubatin pesan yang masuk itu.

Sejenak aku memandangi langit yang berawan, mengingat kembali masa-masa itu. Masa dimana aku masih belum ketemu anak-anak kost sekitar kampus.

Sambil mengambil segelas es teh, aku ketikkan dengan penuh semangat, “Puji Tuhan, si A memang pantas menang. Dia sudah lama menunggu momen ini.”

Ting tung tong ting. Hape jadulku berbunyi lagi.

“Ah. Padahal kan lebih bagus kita. Andaikan kita yang ditunjuk.”, balas temanku dari seberang sana.

“Hmm. Inilah jahatnya pola pikir.”, begitulah isi pikiranku sambil menutup aplikasi chat yang bisa kamu tebak apa.

Kubiarkan temanku ini bercerita sendiri dengan dirinya, agar dia bisa lebih mengetahui makna-makna kehidupan lebih dalam.

Meskipun bagaimana bentuknya “Dia (yang menang)” di hari biasa, manusia hanya mampu melihat hasil akhir dan karena hasil akhirlah yang bisa dinilai manusia.

Dia sombong, dia selalu mencari kesalahan orang lain, dia hanya bisa mengeluh pada aturan yang menghambatnya, dia hanya bisa menganggap remeh orang lain dan selalu curiga, tidak ada yang peduli.

Tapi syukur, hari ini dia menang. Jadi dia tidak menyalahkan orang lain dulu.

Masak ada orang yang mau nyalahin orang lain begini begitu saat dia dapet nilai 100?

Glegeeeekk.

Es tehku kok dah habis. Dikit banget.

“Ampassss. Salah. Jahatnya pola pikir. :(“

  • 1
    Share