Kisah Wanita Yakuza: Ditiduri karena Hutang

  • 3
    Shares

Penulis Shoko Tendo, seorang wanita yakuza menceritakan sebagian besar kisah hidupnya yang bergelut dengan dunia gangster dan narkoba. Ia memiliki rambut cokelat lurus dan fitur wajah tajam yang dibentuk melalui operasi plastik.

Wanita yakuza itu tidak mengungkap gambaran jelas tentang kisah masa lalunya, selain melalui tato rumit yang mengintip dari balik lengan bajunya.

Untuk karya seni yang satu ini, dia tidak malu menunjukkannya. Karya seni itu berisi banyak ornamen yang sangat mencolok dan menutupi hampir keseluruhan tubuhnya.

Gambar seorang putri dengan belati digigitnya memenuhi punggung wanita cantik ini, sedangkan ular yang sedang merayap digambar sepanjang lengan dan kakinya. Karakter kanji dan ikan mas mengisi ruang kosong di antaranya.

“Di depan umum, orang tidak menghargai tato,” jelas Tendo dengan suara lembut, duduk di kedai kopi di Daerah Ikebukuro Tokyo ketika hari hujan pada bulan Februari, sebagaimana dilansir dari Tokyo Reporter pada Juni 2010.

“Mereka tidak setuju (dengan tato). Tapi, ketika saya tumbuh dewasa, saya melihat ayah saya dan orang-orang di sekitarnya memiliki tato. Hal itu (budaya tato) sudah dekat, dan saya pikir, itulah saya,” ucapnya.

Kisah Wanita Yakuza yang Hidup Putus Asa

Kisah wanita yakuza Jepang

Pencarian jati diri adalah proses berkelanjutan bagi Tendo.

Penduduk asli Osaka ini pada bulan Desember 2009 menerbitkan buku “Full Moon Baby” yang membahas tentang seorang ibu tunggal di Jepang. Baginya, kisah dalam buku itu adalah tantangan lain dalam hidup yang penuh dengan keputusasaan.

“Ada perbedaan antara menjadi seorang ibu tunggal dan tidak menikah dengan menjadi seorang ibu tunggal karena bercerai,” ujar Tendo tentang bukunya yang merupakan sekuel dari “Yakuza Moon”, debutnya yang sangat populer.

Dalam bukunya itu, dia menyoroti pandangan bahwa jika perempuan melahirkan tapi belum menikah, bayinya dianggap tidak sah. “Ini memberikan gambaran negatif tentang masa lalu yang tersembunyi,” ucapnya.

Menurutnya, di luar Jepang, kejadian itu bukan situasi yang tidak biasa. “Saya menulis buku ini untuk mengubah citra negatif yang dipegang oleh masyarakat di Jepang,” ujarnya.

Buku setebal 166 halaman itu menceritakan dengan sungguh-sungguh bagaimana dia menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks selama lebih dari satu dekade hingga “kesempatan terakhir” untuk memiliki bayi pada usia 37 tahun.

Ayah dari putri Tendo bernama Komachi yang merupakan seorang fotografer. Hubungan mereka ini tidak cukup baik dan dia sekarang merasa terasing.

Stigma masyarakat terhadap situasi yang dialaminya membayangi ke tempat-tempat umum, seperti rumah sakit dan bangsal kantor setempat.

“Full Moon Baby” adalah buku bacaan yang lebih ringan dibandingkan dengan “Yakuza Moon” yang telah terjual lebih dari 100 ribu eksemplar sejak dirilis pada tahun 2004.

Versi bahasa Inggris, salah satu dari lebih dari puluhan versi hasil alih bahasa, menyusul 3 tahun kemudian. Yakuza Moon adalah gambaran jujur tentang kehidupan yang brutal.

Awal Mula Wanita Yakuza

Sebagai anak muda dan bullying yang terus-menerus karena menjadi anggota keluarga yakuza, akhirnya mendorong Tendo mendekat ke masyarakat pinggiran.

Dia menghabiskan 8 bulan masa mudanya di panti asuhan karena suatu perkelahian, dia melakukan penyerangan menggunakan senyawa kimia pengencer cat.

Pada tahun-tahun berikutnya, ketika hutang keluarganya meningkat, dia mulai tidur dengan sejumlah yakuza. Banyak dari mereka menodai wajah cantiknya dengan tinjuan. Sebelum usianya menginjak 20 tahun, Tendo bekerja sebagai pengelola klub malam.

Setelah pemerkosaan dan menerima perlakuan kasar yang sangat kejam oleh mantan pacar, sebelum pernikahannya dengan seorang gangster, dia berada dalam kondisi tidak memiliki uang.

Karena tidak memiliki uang, ia pindah ke Tokyo untuk memulai bekerja di salon pachinko. Setelah itu, ia mendapat kabar kematian ibunya.

Kabar tersebut membuatnya berada dalam depresi berat hingga mencoba menyudahi hidupnya dengan menelan segenggam pil tidur. “Saya menulis buku itu (Full Moon Baby) dengan menghadapi masa lalu saya,” ujarnya.

“Proses penulisan buku itu membuat saya mengingat hari-hari itu. Itu bukanlah sesuatu yang mudah dihadapi. Saya tidak punya masalah menulis tentang diri saya sendiri, tetapi yang paling sulit adalah menulis tentang keluarga saya,” katanya.

Memberdayakan Dirinya Sendiri

Shoko Tendo seorang penulis

Tato dari leher hingga kakinya adalah simbol populer di dunia kriminal Jepang. Hal itu telah terakumulasi selama bertahun-tahun sebagai cara untuk mengakui sejarahnya dan memberdayakan dirinya untuk menghadapinya.

Ayah Tendo meninggal karena kanker perut ketika wanita itu berusia 29 tahun. Reaksi yang dilakukannya saat ini berbeda, dia terinspirasi untuk mengubah hidupnya.

Tendo bercerai dengan suaminya yang seorang gangster, yang telah memotong kelingkingnya karena tidak mematuhi perintah bosnya untuk tidak membalas pukulannya.

Dia kembali bekerja sebagai pengelola klub malam, kali ini di distrik Kabukicho, Tokyo. Dia mengabdikan diri untuk pekerjaannya itu. Ketika usinya menginjak 30 tahun, dia membuka rekening tabungan pertamanya.

Kemudian, transformasinya berakhir saat dia bekerja pada hari terakhirnya di klub malam itu. Malam itu bulan purnama bersinar, hal itu menurut Tendo mewakili pasang surut hidupnya.

Terlepas dari kehidupan masa mudanya yang penuh gejolak itu, dia tidak memandang negatif hubungannya dengan dunia yakuza. “Saya telah menerima dari mana saya berasal tanpa keraguan. Saya tidak pernah mempertanyakannya,” katanya.

Badan Kepolisian Nasional Jepang memperkirakan bahwa ada sekitar 80.000 yakuza di Jepang yang berurusan dengan segala hal mulai dari penipuan, narkoba, hingga perdagangan manusia dan organ.

Tendo mengatakan bahwa buku “Yakuza Moon” mendapat respon baik dari masyarakat.

“Di buku atau film, ada pahlawan. Di buku saya, tidak ada yakuza yang bagus. Setelah dirilis, saya mendapat surat dari geng yakuza yang mengatakan bahwa itu menggambarkan kehidupan mereka secara akurat dan bahwa mereka senang karenanya,” ujar Tendo.

Sugamo

Tendo, wanita yakuza

Tendo sering mengunjungi pemakaman di Sugamo, Tokyo untuk memberi penghormatan kepada keluarganya.

Dia berterima kasih kepada orang tuanya karena telah menjaganya dan berdoa untuk kemakmuran putrinya itu, serta berdoa untuk pekerjaannya sebagai penulis yang tumbuh dalam sebuah gengster.

Sebelum meninggal, ayah Tendo menulis sepucuk surat, “Shoko, tolong terus percaya pada dirimu sendiri.”

Mempertahankan kepercayaan yang dimilikinya bagaimanapun merupakan pertarungan berkelanjutan yang terkadang disampaikan Tendo melalui blog pribadinya.

Dalam wawancara itu, dia menyebut bahwa sudah umum bagi penulis untuk menggali masa lalu dirinya sendiri. Baginya, itu adalah memunculkan kenangan akan pergumulan emosional dan keuangannya ketika pertama kali datang ke Tokyo.

“Ini adalah sesuatu yang mengganggu saya untuk waktu yang lama,” ucapnya.

“Tapi, hari ini saya menyadari bahwa ini adalah bagian dari diri saya yang membuat saya kuat. Karena masa-masa sulit itulah yang menjadikan diri saya hari ini,” pungkasnya.


  • 3
    Shares