Kenapa Kamu Menyerah?

Kenapa menyerah?

Saya sedang duduk di bawah teduhnya beranda rumah.

Saya melepaskan pandangan ke langit dan menemukan hal luar biasa telah terjadi.

“Kenapa hal ini bisa terjadi?” Gumam diriku sambil melihat kepada salah awan yang bergerak cepat

Saya seperti melihat bayangan masa kecil diri saya.

Awan-awan di langit itu membimbing saya lebih jauh lagi menyelami setiap masa bahagia saya.

Setiap pencapaian, setiap penghargaan, setiap keberhasilan, bahkan setiap tawa teman-teman.

Lama saya tak mengingat itu lagi.

Tiba-tiba, saya bertanya dalam benak, mengapa saya bisa mendapatkan itu semua?

Lantas, awan-awan itu membimbing saya lagi menuju mendung.

Mendung yang berbeda dari hari biasanya.

Mendung ini membuat saya mengurutkan setiap kisah yang sudah terjadi.

Saya menemukan ingatan itu.

Dulu saya sempat masuk ke dalam pusaran hujan yang deras.

Meninggalkan rasa nyaman memeluk bantal guling kesayangan di kamar.

Saya berjalan menuju tempat si Dia berada.

Di tempat yang di isi dengan orang-orang besar, saya lalu berlari dan berusaha mengambil Dia. Tanpa takut, tanpa menyerah.

Semuanya kalah. Saya menang.

Saya membawa Dia pulang untuk menggantikan bantal guling kesayangan.

Karena keberhasilan itu, saya tidak peduli lagi jika harus terus-terusan menerjang hujan tanpa menyerah.

Yang penting bagi saya waktu itu ialah bisa membawa Dia pulang lagi dan lagi.

Hmm. Saya pernah tidur dengan Dia beberapa kali.

#Duargedergedergeder

Tiba-tiba saya terbangun dari lamunan saya.

Saya jadi merasa rindu Dia.

Saya ingin memeluknya lagi saat hujan atau panas.

Tapi, apa daya. Saya sekarang terlalu lemah untuk berlari dan bertarung.

Sekarang saatnya saya memeluk bantal guling kesayangan sambil menunggu WA dari mereka.

…ketika mereka berhasil membawa Dia pulang untuk dipeluk.

Leeee kumbahane dintasi sik!! Cah lanang, ewangi Ibuke!!

Hiyo mbok yuuu. #ngentasi pemean