Penyebab BAB Berdarah yang Perlu Diperhatikan

Apapun penyebab pastinya, buang air besar (BAB) berdarah sanggup membuat panik bagi yang mengalaminya. Hal ini wajar karena BAB keluar darah menjadi tanda terjadinya masalah atau gangguan pada saluran pencernaan.

Pada umumnya, jika darah yang keluar bersama tinja berwarna merah segar, itu menunjukkan adanya perdarahan di usus besar bagian bawah atau rektum.

Sedangkan jika darah yang keluar berwarna merah yang lebih gelap sering dikaitkan dengan perdarahan di usus kecil atau usus besar bagian atas.

Sementara, darah yang sangat gelap atau merah hitam dapat menjadi tanda pendarahan di lambung atau organ lain di sistem pencernaan.

Penyebab BAB Berdarah

Mempertimbangkan berbagai data yang diperoleh dari riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, tes diagnostik, dan sebagainya, dokter dapat menyimpulkan etiologi atau penyebab BAB keluar darah.

Dalam semangat diagnosis banding, berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab BAB berdarah yang patut diperhatikan. Beberapa penyebab paling umum meliputi:

1. Perdarahan Saluran Pencernaan Atas

Melansir Verywell Health, penyebab BAB keluar darah bisa dikarenakan oleh perdarahan saluran pencernaan atau saluran gastrointestinal (GI) bagian atas.

Perdaraan saluran pencernaan atas yang cukup sering terjadi adalah perdarahan dalam struktur anatomi proksimal ke ligamen Treitz, ligamen yang masih merupakan bagian dari usus dua belas jari.

Untuk memastikan apakah seseorang mengalami perdarahan saluran pencernaan bagian atas, dokter biasanya perlu melakukan endoskopi.

Sebelum endoskopi, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, serta berbagai tes penunjang, seperti pemeriksaan darah dan rontgen.

Setelah tindakan resusitasi seperti stabilisasi jalan napas atau transfusi darah, pasien dengan perdarahan saluran pencernaan atas yang serius dapat segera mendapatkan tindakan pembedahan.

2. Fisura Ani

Fisura ani adalah suatu robekan yang terjadi pada dinding anus. Kondisi ini juga dapat menjadi penyebab BAB berdarah.

Tak hanya terjadi pada orang dewasa, fisura ani juga dapat dialami oleh bayi. Robekan yang terjadi pada fisura ani biasanya dikarenakan oleh sembelit atau BAB yang besar dan keras.

Untungnya, fisura ani umumnya dapat sembuh dengan sendirinya. Tindakan pelunakan feses dan penggunaan petroleum jelly atau krim lain dapat meredakan nyeri dan rasa tidak nyaman.

3. Polip

Istilah polip usus sebenarnya merujuk pada tonjolan apapun yang muncul pada usus. Ada beberapa jenis polip yang dapat dikelompokkan menurut bentuk dan histologinya.

Polip adenomatosa adalah jenis polip usus yang cukup sering terjadi dan mempengaruhi setidaknya 25 persen orang dewasa berusia 50 tahun ke atas.

Kondisi polip usus layak kita waspadai. Pasalnya, kebanyakan kasus kanker kolorektal berawal dari polip adenomatosa.

Untungnya, dengan kemajuan di bidang pengobatan, polip adenomatous non-metastasis dapat direseksi atau diangkat dengan pembedahan, dan kemoterapi dapat dilakukan untuk membatasi potensi penyebaran.

Kanker kolorektal dapat diobati jika diketahui lebih awal, itulah sebabnya semua orang yang berusia 50 tahun ke atas wajib menjadwalkan pemeriksaan kolonoskopi dan sigmoidoskopi secara teratur.

4. Wasir

Melansir Medical News Today, wasir adalah penyakit yang kerap menyebabkan BAB berdarah.

Wasir atau ambeien terjadi ketika pembuluh darah yang berada di sekitar anus membengkak dan pecah dan akhirnya menimbulkan perdarahan.

Wasir dapat menyerang siapa saja tetapi sering dikaitkan dengan beberapa faktor risiko, berupa:

  • Kehamilan
  • Diare kronis
  • Kegemukan
  • Penuaan
  • Sembelit kronis dan mengejan
  • Rendah serat atau diet tidak seimbang
  • Mengejan saat BAB atau duduk di toilet terlalu lama

Selain BAB keluar darah, wasir dapat dikenali dengan gejala lain, yaitu benjolan, rasa gatal, nyeri, atau tak nyaman di sekitar anus.

Beruntungnya, wasir biasanya dapat mereda dengan penggunaan krim dan supositoria rektal yang dijual bebas di apotek yang mengandung hidrokortison.

Sering mandi air hangat, makan makanan tinggi serat, dan menggunakan pelunak feses dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan wasir.

Jika perawatan awal tidak berhasil, dokter mungkin perlu melakukan operasi kecil untuk mengangkat wasir.

5. Angiodisplasia

Jika penyebab tinja berdarah tidak jelas, ada kemungkinan bahwa itu disebabkan oleh angiodisplasia atau malformasi vaskular usus.

Angiodisplasia pada seringnya berhubungan dengan penyakit ginjal stadium akhir, penyakit von Willebrand, dan gagal ginjal stadium akhir.

Tergantung lokasinya, angiodisplasia bisa diobati dengan obliterasi endoskopik. Perawatan lain yang bisa dilakukan adalah terapi hormon, transfusi darah berkala, dan suplemen zat besi.

Untungnya, pada kebanyakan orang yang menderita, angiodisplasia dapat hilang dengan sendirinya.

6. Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah istilah umum bagi penyakit autoimun yang menyebabkan radang usus.

Penyakit ini adalah salah satu penyebab BAB berdarah. Dua jenis IBD yang paling sering ditemui adalah penyakit Crohn dan kolitis ulserativa.

Terapi atau perawatan IBD melibatkan pengobatan, termasuk penggunaan steroid dan peningkat kekebalan tubuh, serta opsi pembedahan apabila diperlukan.

Namun, berkat perkembangan obat baru-baru ini, jumlah pasien yang menderita IBD dan memerlukan pembedahan telah berkurang secara signifikan.

7. Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh di usus besar (kolon) atau pada bagian paling bawah dari usus besar yang terhubung langsung ke anus (rektum).

Berkat berkembangnya kemampuan deteksi dan pengobatan dini, jumlah kematian akibat penyakit kolorektal dilaporkan pernah mengalami penurunan hingga 25 persen selama beberapa tahun terakhir.

Pada kasus kanker kolorektal, BAB keluar darah bisa menjadi indikasi awal adanya penyakit berbahaya ini.

8. Penyakit Divertikular

Ada dua macam penyakit diverticular, yakni divertikulosis dan divertikulitis. Keduanya bisa muncul dengan gejala yang disertai nyeri dan keluarnya darah bersama tinja.

Divertikulosis terjadi ketika kantong atau divertikula (divertikulum tunggal) muncul di usus besar. Divertikula ini muncul dari kelemahan pada dinding kolon dan terkadang tumbuh hingga beberapa sentimeter.

Meskipun banyak dikaitkan dengan diet rendah serat, penyebab pasti dari divertikula masih belum terjawab. Pendarahan dari divertikula dapat dihentikan dengan operasi perut.

Ketika divertikula terinfeksi, kondisi divertikulitis muncul. Divertikulitis dapat diobati dalam pengaturan rawat inap atau rawat jalan, dan antibiotik mungkin diperlukan.

Jika pembedahan dianggap perlu, dokter biasanya menunggu sampai infeksi telah diobati terlebih dahulu.

9. Kolitis Iskemik

90 persen dari semua kasus kolitis iskemik dialami orang tua. Kondisinya pun bisa akut atau kronis.

Salah satu penyebab BAB berdarah ini terjadi pada saat aliran darah ke usus besar berkurang karena terjadi pembekuan darah, sumbatan bekuan darah, penyempitan atau pengerasan pembuluh darah.

Kasus kolitis iskemik seringnya berlangsung dalam waktu singkat dan sembuh dengan sendirinya.

Pada kasus yang lebih parah, seseorang yang menderita colitis iskemik perlu mendapat perawatan di rumah sakit agar menerima cairan infus dan antibiotik. Sekitar 20% penderita kolitis iskemik perlu pembedahan.

Meski penyebab BAB berdarah tidak termasuk kondisi medis yang serius, tapi penting untuk tetap berkonsultasi dengan dokter terkait kondisi yang dialami.

Banyak orang tergoda untuk mengabaikan BAB keluar darah dan berharap darahnya hilang dengan sendirinya. Namun, perlu diingat bahwa penyebab BAB berdarah bisa saja kanker koleorektal yang dapat mengancam jiwa.