Tes PCR untuk Mendiagnosis COVID-19, Apa Itu?

  • 1
    Share

PCR atau Polymerase Chain Reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik sel, bakteri, atau virus.

Saat ini, PCR kerap digunakan untuk mendiagnosis penyakit COVID-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Materi genetik yang ada di dalam setiap sel, termasuk di dalam bakteri atau virus, bisa berupa DNA (deoxyribonucleic acid) maupun RNA (ribonucleic acid).

Kedua jenis material genetik ini dibedakan menurut jumlah rantai yang ada di dalamnya.

DNA merupakan material genetik dengan rantai ganda, sedangkan RNA merupakan materi genetik dengan rantai tunggal. DNA dan RNA setiap spesies makhluk hidup memiliki informasi genetik yang unik.

Keberadaan DNA dan RNA ini dapat dideteksi oleh PCR melalui teknik amplifikasi atau perbanyakan.

Pengertian Tes PCR

Nah, dengan adanya PCR, keberadaan material genetik dari beberapa jenis penyakit akibat infeksi bakteri atau virus dapat dideteksi dan akhirnya bisa membantu diagnosis penyakit tersebut.

Beberapa penyakit yang dapat didiagnosis melalui tes PCR antara lain ialah:

  • Hepatitis C
  • Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
  • Infeksi cytomegalovirus
  • Infeksi Human papillomavirus (HPV)
  • Klamidia
  • Gonore
  • Penyakit Lyme
  • Pertusis (batuk rejan)

Selain untuk mendiagnosis sejumlah penyakit di atas, tes PCR bisa digunakan untuk mendiagnosis COVID-19.

COVID-19 adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang populer dengan nama virus Corona. Virus Corona penyebab COVID-19 adalah jenis virus RNA.

Tes PCR untuk Mendiagnosis COVID-19

Prosedur pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel dahak, lendir, atau cairan lain dari nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru pasien yang diduga terinfeksi virus Corona.

Pengambilan sampel ini dilakukan dengan metode swab, yang butuh waktu sekitar 15 detik dan tidak menimbulkan rasa sakit. Selanjutnya, sampel tersebut akan diteliti di laboratorium.

Nah, karena virus Corona penyebab COVID-19 ini merupakan virus RNA, deteksi virus dengan tes PCR akan diawali dengan proses konversi (pengubahan) RNA yang ditemukan di sampel menjadi DNA.

Proses mengubah RNA virus menjadi DNA dilakukan dengan enzim reverse-transcriptase. Teknik pemeriksaan virus RNA dengan mengubahnya dulu menjadi DNA dan mendeteksinya dengan PCR disebut Reverse-Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Setelah RNA diubah menjadi DNA, barulah alat PCR akan melakukan amplifikasi atau perbanyakan materi genetik sehingga bisa dilihat hasilnya.

Jika mesin PCR mendeteksi RNA virus Corona di sampel cairan yang diperiksa maka hasilnya dikatakan positif.

Memastikan Hasil Rapid Test

Selain tes PCR, ada juga tes serologi rapid test untuk COVID-19. Sebenarnya, rapid test bukanlah tes untuk mendiagnosis COVID-19.

Rapid test hanyalah skrining awal untuk mendeteksi keberadaan antibodi IgM dan IgG yang dihasilkan tubuh ketika terpapar virus Corona.

Oleh sebab itu, hasil negatif pada rapid test tidak bisa dijadikan penentu terinfeksi tidaknya seseorang oleh virus Corona.

Hasil positif pada rapid test juga tidak bisa dijadikan penentu bahwa seseorang telah terinfeksi virus Corona.

Sebab, antibodi yang terdeteksi bisa saja IgM dan IgG yang dibentuk oleh tubuh karena infeksi virus yang lain, termasuk virus dari kelompok coronavirus selain SARS-CoV-2. Hasil seperti ini dikatakan hasil positif palsu (false positive).

Itulah pentingnya melakukan tes PCR. Tes PCR memastikan hasil dari rapid test. Sampai saat ini, tes PCR merupakan pemeriksaan diagnostik yang dianggap paling akurat untuk memastikan terinfeksi tidaknya seseorang oleh COVID-19.


  • 1
    Share