Struktur Sosial di Masyarakat [Sosiologi SMA]

struktur sosial

A. Definisi Struktur Sosial

Secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak selalu berbentuk fisik, ada pula struktur yang terbentuk pada hubungan sosial.

Dalam ilmu sosiologi, struktur sosial adalah suatu tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal.

Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:

  1. George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
  2. George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
  3. William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.
  4. Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial.

B. Hakikat Struktur Sosial

Suatu sistem sosial tidak hanya berupa kumpulan individu tetapi juga berupa hubungan-hubungan sosial dan sosialisasi yang membentuk nilai-nilai dan adat istiadat sehingga terjalin kesatuan hidup bersama yang teratur dan berkesinambungan.

Struktur sosial adalah sebuah cara yang ada di masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola perilaku berulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut.

Struktur sosial dapat diartikan sebagai jalinan antara kaidah-kaidah/norma-norma sosial, lembaga-lembaga sosial, dan lapisan-lapisan sosial.

Dari difinisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa setiap struktur sosial yang muncul dalam kehidupan masyarakat dapat terjadi karena ada unsur-unsur sebagai berikut:

1. Individu

Individu sebagai pembentuk masyarakat dalam hal ini juga bertindak sebagai pembentuk struktur sosial. Tidak ada struktur sosialpun yang yang dapat berdiri sendiri tanpa peranan individu-individu dalam masyarakat.

2. Interaksi

Walaupun sederhana, ternyata pola interaksi antar individu dalam masyarakat juga membentuk struktur sosial.

Di sinilah akan ditentukan apakah struktur sosial yang terbentuk akan mengarah pada integrasi atau disintegrasi. Adapun elemen dasar dari struktur sosial itu adalah sebagai berikut:

a. Status sosial

Status sosial merupakan kedudukan atas posisi sosial seseorang dalam kelompok masyarakat. Status sosial terbagi menjadi tiga yaitu sebagai berikut:

  • Ascribed Status
    • Status yang diperoleh secara otomatis atau dengan sendirinya, karena kelahiran atau keturunan.
    • Contoh: gelar kebangsawanan, jenis kelamin.
  • Achieved Status
    • Status yang diperoleh dengan usahanya sendiri.
    • Contoh: gelar kependidikan.
  • Assigned Status
    • Status yang didapatkan karena jasa-jasanya yang tertentu.
    • Contoh: pemberian gelar kepahlawanan, piagam penghargaan, dll.

b. Peran Sosial

Peran sosial adalah seperangkat harapan terhadap seseorang yang menempati suatu posisi atau status sosial tertentu.

c. Kelompok

Kelompok adalah sejumlah orang yang memiliki norma-norma, nilai-nilai, dan harapan yang sama, serta secara sadar dan teratur saling interaksi.

d. Institusi/Lembaga

Institusi adalah pola terorganisasi dan kepercayaan dan perilaku yang dipusatkan pada kebutuhan tertentu.

C. Ciri-ciri Struktur Sosial

1. Muncul pada Kelompok Masyarakat

Struktur sosial hanya bisa muncul pada kelompok yang memiliki beberapa individu dengan status dan peran.

Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam sebuah kelompok atau masyarakat.

Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran individu. Status yang berbeda-beda itu merupakan cerminan dari hak dan kewajiban yang berbeda pula.

2. Berkaitan Erat dengan Kebudayaan

Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia memiliki banyak daerah yang otomatis berkebudayaan yang beraneka ragam.

Hal ini menyebabkan banyak struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia menurut kebudayaannya masing-masing.

Hal-hal yang mempengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:

  • Keadaan Geografis
    Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
  • Mata Pencaharian
    Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.
  • Pembangunan
    Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antar daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.

3. Dapat Berubah dan Berkembang

Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman.

Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka bisa diubah dan berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Ada juga ciri struktur sosial menurut ahli lain di antaranya:

  • Bersifat abstrak,
  • Terdapat dimensi horizontal dan vertikal,
  • Sebagai landasan sebuah proses sosial dalam suatu masyarakat.

D. Jenis Struktur Sosial (Dilihat dari Sifatnya)

  1. Struktur Sosial Kaku
    Suatu struktur sosial yang tidak dapat diubah dan anggota masyarakat menghadapi mobilitas sosial.
  2. Struktur Sosial Luwes
    Suatu struktur sosial yang dimana para anggota masyarakat mempunyai kebebasan dalam melakukan mobilitas sosial dan perubahan.
  3. Struktur Sosial Formal
    Struktur sosial yang yang diakui keberadaannya oleh pihak berwenang.
  4. Struktur Sosial Informal
    Struktur sosial yang nyata keberadaannya tetapi tidak memiliki ketetapan hukum serta tidak diakui oleh lembaga dan pihak berwenang.

E. Fungsi Struktur Sosial

1. Fungsi Identitas

Struktur sosial difungsikan sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok.

Kelompok yang anggotanya memiliki persamaan latar belakang akan mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.

2. Fungsi Kontrol

Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri setiap individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat.

Bila individu tadi mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, bisa saja individu tersebut mengurungkan niatnya melanggar aturan.

Pelanggaran tersebut berpotensi menimbulkan konsekuensi yang pahit bagi individu tersebut.

3. Fungsi Pembelajaran

Individu dapat belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi.

Banyak hal yang dapat dipelajari melalui sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan, dan kedisiplinan.

F. Bentuk Struktur Sosial

Bentuk struktur sosial bisa dikelompokkan menjadi stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Masing-masing punya ciri tersendiri.

1. Stratifikasi Sosial

Stratifikasi berasal dari kata strata atau tingkatan. Stratifikasi sosial adalah struktur sosial di lingkungan yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan.

Ukuran yang dipakai bisa kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan. Max Weber menyebutkan bahwa kekuasaan, hak istimewa, dan kerhormatanlah yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi sosial.

Adanya perbedaan menurut jumlah harta, jenjang pendidikan, asal-usul keturunan, dan kekuasaan membuat manusia dapat dikelompokkan secara bertingkat. Ada yang berada di atas, ada pula yang berada di posisi terbawah.

a. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Sifat

Stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi 3:

  • Stratifikasi Sosial Tertutup
    Adalah stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan terjadinya perpindahan posisi (mobilitas sosial).
  • Stratifikasi Sosial terbuka
    Adalah stratifikasi yang mengizinkan adanya mobilitas, baik naik ataupun turun. Biasanya stratifikasi ini tumbuh pada masyarakat modern.
  • Stratifikasi Sosial Campuran
    Hal ini bisa terjadi bila stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup. Anggotanya kemudian menjadi anggota dua tingkatan sekaligus. Ia harus bisa menyesuaikan diri terhadap dua tingkatan tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat terkadang tingkatan individu dapat mengalami perubahan karena adanya mobilitas sosial. Yang mana bentuk-bentuk mobilitas sosial:

  • Mobilitas Sosial Horizontal
    Di sini, perpindahan yang terjadi tidak mengakibatkan berubahnya status dan kedudukan individu yang melakukan mobilitas.
  • Mobilitas Sosial Vertikal
    Perpindahan sosial yang terjadi mengakibatkan terjadinya perubahan status dan kedudukan individu.
    Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi 2:
    • Vertikal naik
      Status dan kedudukan individu naik setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.
    • Vertikal turun
      Status dan kedudukan individu turun setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.
  • Mobilitas Antargenerasi
    Ini bisa terjadi bila melibatkan dua individu yang berasal dari dua generasi yang berbeda.
  • Mobilitas Intergenerasi
    Ini hanya melibatkan satu individu, yang dilihat dari perubahan status dan kedudukannya dari satu waktu ke waktu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi stratifikasi sosial atau kriteria yang dijadikan ukuran untuk mengelompokkan anggota masyarakat antara lain sebagai berikut:

b. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Ekonomi dan Kekayaan

Berdasarkan status ekonomi yang dimilikinya, masyarakat dibagi menjadi:

  • Golongan Atas
    Termasuk golongan ini adalah orang-orang kaya, pengusaha, penguasa, atau orang yang memiliki 1 penghasilan besar.
  • Golongan Menengah
    Terdiri dari pegawai kantor, petani pemilik lahan, dan pedagang.
  • Golongan Bawah
    Terdiri dari buruh tani dan budak.
  • Kelas atas, yaitu orang-orang yang karena penghasilan atau kekayaannya dengan leluasa dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya
  • Kelas menengah, yaitu orang-orang yang karena penghasilan dan kekayaannya dapat leluasa memenuhi kebutuhan hidup mendasarnya, tetapi tidak leluasa untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya.
  • Kelas bawah, yaitu orang-orang yang dengan sumberdaya ekonominya hanya dapat memenuhi kebutuhan hidup mendasarnya, tetapi tidak leluasa, atau bahkan tidak mampu untuk itu.

c. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Pendidikan

Orang yang berpendidikan rendah menempati posisi terendah, berturut-turut hingga orang yang memiliki pendidikan tinggi.

Status seseorang juga ditentukan oleh penguasaan atau keahlian khusus lain seperti dalam bidang agama, ketrampilan, kesaktian dll.

d. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Tingkat Kekuasaan

Stratifikasi jenis ini berhubungan erat dengan kekuasaan dan wewenang yang dimiliki oleh seseorang.

Semakin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi strata sosialnya. Pengelompokan paling jelas yang bisa dilihat ada di dunia politik.

e. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Keturunan

Keturunan yang dimaksud adalah keturunan yang berdasarkan kebangsawanan atau kehormatan bukan kekayaan atau kekuasaan. Keturunan bangsawan biasanya akan menempati lapisan atas.

Dampak Adanya Stratifikasi Sosial:

1. Dampak Positif

Orang yang berada pada lapisan terbawah akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya, kemudian mengadakan mobilitas sosial ke tingkatan yang lebih tinggi.

2. Dampak Negatif

Dapat menimbulkan kesenjangan sosial

Unsur penting dalam stratifikasi sosial adalah status. Apakah status? Status adalah posisi, kedudukan, tempat seseorang atau kelompok berada dalam sebuah struktur sosial masyarakat atau pola hubungan sosial tertentu.

Status seseorang dapat diperoleh sejak kelahirannya (ascribed status), diberikan karena jasa-jasanya (assigned status), atau karena prestasi dan perjuangannya (achived status).

Masyarakat modern lebih menghargai status-status yang diperoleh melalui jalur prestasi atau perjuangan, masyarakat feodal lebih menghargai status yang diperoleh sejak lahir.

Apakah kelas sosial?

  • Segolongan orang yang menyandang status relatif sama,
  • Memiliki cara hidup tertentu,
  • Sadar akan privelege (hak istimewa) tertentu, dan
  • Memiliki prestige (gengsi kemasyarakatan) tertentu.

Apakah simbol status?

  • Simbol “sesuatu” yang oleh penggunanya diberi makna tertentu.
  • Ciri-ciri atau tanda-tanda yang melekat pada diri seseorang atau kelompok yang secara relatif dapat menunjukkan statusnya.
  • Antara lain: cara berpakaian,cara berbicara, cara belanja, desain rumah, cara mengisi waktu luang, keikutsertaan dalam organisasi, tempat tinggal, cara berbicara, perlengkapan hidup, akses informasi, dst.

Konsekuensi perbedaan status dalam pelapisan sosial masyarakat?

  • Cara hidup (cara berfikir, berperasaan dan bertindak) yang berbeda: sikap politik, kepedulian sosial, maupun keterlibatan dalam kelompok sosial.
  • Prestige (gengsi/kehormatan sosial) yang berbeda,
  • Privilege (hak istimewa) yang berbeda,
  • Peluang hidup yang berbeda.

2. Diferensiasi Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat yang didasarkan pada perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sama atau sejajar. Seperti perbedaan suku, agama, ras, bahasa, dan lain-lain.

Diferensiasi sosial ditandai oleh ciri-ciri berikut ini:

  • Ciri fisik: warna kulit, bentuk muka, rambut, hidung, mata, dsb.
  • Ciri sosial: peran sosial, status sosial, prestige, kekuasaan, dsb.
  • Ciri budaya: agama, kepercayaan, bahasa, kesenian, profesi, pakaian, dsb.

Adzan wahiddien menjelaskan pengelompokan dalam masyarakat terbentuk atas delapan kriteria diferensiasi sosial, antara lain:

a. Diferensiasi Ras

Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Diferensiasi ras adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya.

Secara garis besar manusia terbagi kedalam ras-ras sebagai berikut:

i. Menurut A. L. Krober

  • Austroloid, mencakup penduduk asli Australia (Aborigin).
  • Mongoloid
    • Asiatik Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah, dan Asia Timur).
    • Malayan Mongoloid (Asia Tenggara dan Penduduk Asli Taiwan).
    • American Mongoloid (Penduduk asli Amerika).
  • Kaukasoid
    • Nordic (Eropa Utara, sekitar Laut Baltik).
    • Alpine (Eropa Tengah dan Eropa Timur).
    • Mediterania (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, dan Iran).
    • Indic (Pakistan, India, Bangladesh, dan Sri Lanka).
  • Negroid
    • African Negroid (Benua Afrika).
    • Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal dengan nama orang Semang, Filipina).
    • Malanesian (Irian dan Melanesia).
  • Ras-ras Khusus (tidak dapat diklasifikasikan ke dalam empat ras pokok)
    • Bushman (gurun Kalahari, Afrika Selatan).
    • Veddoid (pedalaman Sri Lanka dan Sulawesi Selatan).
    • Polynesian (Kepulauan Mikronesia, dan Polinesia).
    • Ainu (Pulau Hokkaido dan Karafuto di Jepang).

ii. Menurut Ralph Linton

  • Mongoloid
    Ciri-ciri:
    • Kulit kuning hingga sawo mateng
    • Rambut lurus
    • Rambut pada tubuh sedikit
    • Mata sipit (Asia Mongoloid)
    • Mongoloid Asia: Sub Ras Tionghoa (Jepang, Vietnam, dan Taiwan)
    • Sub Ras Melayu (Malaysia, Filipina, dan Indonesia)
    • Mongoloid Andian (orang Indian di Amerika)
  • Kaukasoid
    Ciri-ciri:
    • Hidung mancung
    • Kulit putih
    • Rambut pirang sampai coklat pirang kehitaman
    • Kelopak mata lurus
    • Ras Nordic
    • Alpin Mediteran
    • Armenoid
    • India
  • Negroid
    Ciri-ciri:
    • Rambut ikal
    • Kulit gelap
    • Bibir tebal
    • Kelopak mata lurus

Indonesia didiami oleh bermacam-macam sub ras, antara lain:

  • Negrito, suku Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.
  • Veddoid, suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatra Selatan, Toala dan Tomuna di Sulawesi.
  • Neo Melanosoid, kepulauan Kei dan Aru.
  • Melayu:
    • Melayu Tua (Proto Melayu), orang Batak, Toraja dan Dayak.
    • Melayu Muda (Deutro Melayu), orang Aceh, Minang, dan Bugis/Makassar.

b. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)

Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis.

Diferensiasi suku bangsa merupakan penggolongan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Suku bangsa memiliki kesamaan budaya sebagai berikut:

  • Ciri fisik.
  • Bahasa daerah.
  • Kesenian.
  • Adat-istiadat.

Suku bangsa yang ada di Indonesia yaitu sebagai berikut:

  • Pulau Sumatra: Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkuku, Jambi, Palembang, Melayu, dan sebagainya.
  • Pulau Jawa: Sunda, Jawa, Tengger, dan sebagainya.
  • Pulau Kalimantan: Dayak, Banjar, dan sebagainya.
  • Pulau Sulawesi : Bugis, Toraja, Minahasa, Toil-Toli, Makassar, Bolaang-mangondow, Gorontalo, dan sebagainya.
  • Kepulauan Nusa Tenggara: Bali, Bima Lombok, Flores, Timoer, dan Rote.
  • Kepulauan Maluku dan Papua: Ternate, Tidore, Dani, dan Asmat.

c. Diferensiasi Klan (Clan)

Klan/kerabat luas/keluarga besar. Klan merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi).

Klan adalah sistem sosial yang didasarkan pada ikatan darah (keturunan) yang sama, umumnya terjadi di masyarakat unilateral, baik melalui garis ayah (patrilineal) atau ibu (matrilineal).

  • Klan atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) terdapat pada:
    • Masyarakat Batak (sebutan Marga)
    • Marga Batak Karo: Ginting, Sembiring, Singarimbun, Barus, Tambun, Paranginangin.
    • Marga Batak Toba: Nababan, Simatupang, Siregar.
    • Marga Batak Mandailing: Harahap, Rangkuti, Nasution, Batubara, Daulay.
    • Masyarakat Minahasa (klannya disebut Fam) antara lain Mandagi, Lasut, Tombokan, Pangkarego, Paat, Supit.
    • Masyrakat Ambon (klannya disebut Fam) antara lain Pattinasarani, Latuconsina, Lotul, Manuhutu, Goeslaw.
    • Masyarakat Flores (klannya disebut Fam) antara lain Fernandes, Wangge, Da Costa, Leimena, Kleden, De-Rosari, Paeira.
  • Klan atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau, klannya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampung-kampung, nama klannya antara lain: Koto, Piliang, Chaniago, Sikumbang, Melayu, Solo, Dalimo, Kampai, dan sebagainya.
    • Masyarakat Flores, yaitu suku Ngadu juga menggunakan sistem matrilineal.

d. Diferensiasi Agama

Diferensiasi agama adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya.

Di Indonesia kita sama-sama tau ada agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, dan kepercayaan lainnya.

e. Diferensiasi Profesi (Pekerjaan)

Diferensiasi profesi adalah penggolongan masyarakat atas dasar jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan keterampilan khusus.

Misalnya, kita ambil contoh, profesi guru. Guru memerlukan keterampilan khusus: pandai berbicara, bisa membimbing, sabar, dan tulus.

Perbedaan profesi akan mempengaruhi pola sikap dan perilaku dalam masyarakat. Komunitas guru akan berbeda dengan komunitas pedagang, dokter, atau profesi lainnya.

f. Diferensiasi Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan fisik biologis. Perbedaan biologis ini dapat dilihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya.

Atas dasar itu pula, ada kelompok laki-laki/pria dan kelompok wanita/perempuan.

g. Diferensiasi Asal Daerah

Diferensiasi ini merupakan penggolongan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Terbagi menjadi:

  • Masyarakat desa: kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa.
  • Masyarakat kota: kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota.

Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat ditemukan dalam hal-hal berikut:

  • Perilaku,
  • Tutur kata,
  • Cara berpakaian,
  • Cara menghias rumah.

h. Diferensiasi Partai

Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya berpolotik mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan-kesatuan sosial, seazas, seideologi, dan sealiran.

G. Pengaruh Bentuk Struktur Sosial dalam Kehidupan Masyarakat

Pengaruh stratifikasi sosial antara lain:

  • Cara berpakaian
  • Tempat tinggal
  • Cara berbicara
  • Pendidikan
  • Kegemaran dan rekreasi

Pengaruh diferensiasi sosial antara lain:

  • Rasialisme
  • Etnosentrisme
  • Kesombongan religius
  • Primordialisme
  • Sektarian (politik aliran)

H. Unsur Sosial dalam Struktur Sosial

Unsur-unsur sosial yang pokok dalam struktur sosial yang pokok menurut Soerjono Soekanto adalah sebagai berikut:

  1. Kelompok sosial,
  2. Kebudayaan,
  3. Lembaga sosial,
  4. Stratifikasi sosial,
  5. Kekuasaan dan wewenang.

Oleh sebab itu, struktur sosial sesungguhnya merupakan alat bagi masyarakat untuk menata kehidupan sehingga struktur sosial tersebut memiliki fungsi.