Kelompok Sosial [Sosiologi SMA]

Kelompok Sosial

Pengertian

Kelompok adalah sekumpulan manusia, sedangkan sosial adalah masyarakat. Jadi kelompok sosial dapat diartikan sebagai kumpulan manusia yg lebih dari 2 orang untuk melakukan suatu interaksi dalam masyarakat.

Pengertian Kelompok Sosial menurut Para Akhli

  1. Kelompok sosial menurut Soerjono Soekanto adalah kesatuan manusia yang hidup bersama dengan hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.
  2. Kelompok sosial menurut Hendro Puspito adalah kumpulan nyata, teratur, dan tetap dari sejumlah individu yang melakukan peran perannya yang saling berkaitan.
  3. Kelompok sosial menurut Georga Homas adalah sekumpulan individu yang melakukan kegiatan bersama, saling berinteraksi, dan terorganisasi.
  4. Kelompok sosial menurut Horton adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi.
  5. Menurut Homans (1950), kelompok sosial adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung.
  6. Menurut Merton, kelompok sosial merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.
  7. Menurut Achmad S. Ruky, kelompok sosial adalah sejumlah orang yang berhubungan (berinteraksi) antara satu dan yang lainnya, yang secara psikologis sadar akan kehadiran yang lain dan yang menganggap diri mereka sebagai suatu kelompok.
  8. Menurut Muzafer Sherif, itu adalah kesatuan yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
  9. Menurut de Vito (1997), kelompok sosial merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur di antara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apa yang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya.

Ciri-ciri Kelompok Sosial

  • Merupakan kesatuan yang nyata, dapat dibedakan dari kesatuan manusia lainnya.
  • Memiliki struktur sosial, dimana individu yang menjadi anggotanya dalam melaksanakan status dan peran sosial.
  • Setiap anggota kelompok sosial saling berinteraksi dan berkomunikasi sesuai dengan sistem nilai dan norma sosial yang telah disepakati.
  • Memiliki kepentingan bersama.
  • Adanya interaksi dan komunikasi di antara para anggotanya.

Dasar Terbentuknya Kelompok Sosial

  • Faktor keturunan
  • Faktor daerah asal
  • Faktor geografis
  • Faktor kepentingan
  • Faktor keagamaan
  • Faktor ideologi kenegaraan

Klasifikasi Kelompok Soial

Berikut adalah pengklafikasian kelompok yang ada di masyarakat.

1. Klasifikasi berdasarkan Cara Terbentuknya

Berdasarkan cara terbentuknya, kelompok terbagi menjadi dua golongan besar yaitu kelompok semu dan kelompok nyata.

Kelompok Semu

Kelompok semu yaitu kelompok yang terbentuk secara spontan.

Ciri-ciri kelompok semu:

  • Tidak direncanakan
  • Tidak terorganisir
  • Tidak ada interaksi secara terus menerus
  • Tidak ada kesadaran berkelompok
  • Kehadiranya tidak konstan

Kelompok semu dibagi menjadi tiga yakni crowd (kerumunan), publik dan massa.

a. Crowd (kerumunan), dibagi menjadi:

  • Formal Audiency (Pendengar Formal)
    Contoh: Orang-orang mendengarkan khotbah, orang-orang nonton di bioskop.
  • Inconvenient Causal Crowds adalah kerumunan yang sifatnya sementara tetapi ingin menggunakan fasilitas yang sama, contoh: orang antri tiket kereta api.
  • Panic Causal Crowds adalah kerumunan yang terjadi karena suasana panik. Contoh: Kerumunan orang-orang panik yang menyelamatkan diri dari bahaya.
  • Spectator Causal Crowds adalah kerumunan orang yang terbentuk karena ingin menyaksikan peristiwa tertentu. Contoh: Kerumunan penonton atau orang-orang ingin melihat kedatangan presiden.
  • Lawless Crowds adalah kerumunan yang tidak tunduk pada pemerintah, contoh: aksi demo yang anarkis.
  • Immoral Low Less Crowds adalah kerumunan orang-orang tak bermoral, contoh: kerumunan orang yang minum-minuman keras.

b. Massa

Massa adalah kelompok semu yang ciri-cirinya hampir sama dengan kerumunan, tetapi kemungkinan terbentuknya disengaja dan direncanakan.

Contoh: Kerumunan yang mendatangi Gedung DPR dengan persiapan sehingga tidak bersifat spontan.

c. Publik

Seperti yang sudah disebutkan, publik dan massa memiliki ciri-ciri yang mirip, bedanya publik kemungkinan terbentuknya tidak di satu tempat yang sama.

Publik bisa terbentuk karena satunya perhatian pada alat-alat komunikasi seperti: radio, tv, surat kabar, jejaring sosial, dan lain-lain.

Kelompok Nyata

Kelompok nyata mempunyai beberapa ciri khusus. Meski mempunyai berbagai macam bentuk, kelompok nyata mempunyai satu ciri yang sama, yaitu kehadirannya selalu konstan.

a. Statistical Group (Kelompok Statistik)

Kelompok statistik adalah sebuah kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok usia 10-15 tahun di Kecamatan Tingkir.

b. Societal Group (Kelompok Kemasyarakatan)

Kelompok kemasyarakatan ini memiliki kesadaran tentang suatu kesamaan entah itu jenis kelamin, warna kulit, kesatuan tempat tinggal, namun belum ada kontak dan komunikasi antar anggota dan tidak terlibat dalam organisasi.

c. Social Groups (Kelompok Sosial)

Para pengamat sosial sering menyamakan definisi kelompok sosial dengan masyarakat dalam arti khusus. Kelompok sosial terbentuk karena adanya unsur-unsur yang sama, misal tempat tinggal, pekerjaan, kedudukan, atau bisa juga kegemaran.

Kelompok sosial memiliki anggota-anggota yang saling berinteraksi dan berkomunikasi secara intens. Contoh: bertetangga, teman sepermainan, teman seperjuangan, kenalan, dan sebagainya.

d. Associational Group (Kelompok Asosiasi)

Kelompok asosiasi adalah kelompok yang terorganisir dan memiliki struktur formal kepengurusan organisasi.

Ciri-ciri kelompok asosiasi:

  • Direncanakan,
  • Terorganisir,
  • Adanya interaksi yang intens,
  • Adanya kesadaran kelompok,
  • Kehadirannya konstan.

2. Klasifikasi Kelompok berdasarkan Solidaritas

Istilah ini dipopulerkan oleh seorang sosiolog yang bernama Emile Durkheim.

a. Solidaritas Mekanik

Ini adalah jenis solidaritas yang muncul di masyarakat yang masih sederhana, mereka diikat oleh kesadaran kolektif serta belum mengenal adanya pembagian kerja anggota kelompok.

b. Solidaritas Organik

Ini merupakan jenis solidaritas mengikat masyarakat yang tidak lagi sederhana dan telah mengenal pembagian kerja yang teratur sehingga mereka disatukan oleh saling ketergantungan antar anggota.

3. Klasifikasi Kelompok berdasarkan Kedekatan Emosional

Klasifikasi ini diperkenalkan oleh Ferdinand Tonnies

a. Gemeinschaft (Paguyuban)

Paguyuban adalah jenis kelompok sosial yang para anggotanya memiliki ikatan batin yang murni, bersifat alamiah, dan kekal.

Ferdinand Thonies membagi menjadi 3 bagian:

  • Gemeinschaff by blood adalah paguyuban yang terbentuk karena adanya ikatan darah. Contoh: kerabat dan saudara.
  • Gemeinschaft of place adalah paguyuban yang terbentuk karena tempat tinggal berdekatan.
  • Gemeinschaft of mind adalah paguyuban yang terbentuk karena jiwa dan pikiran yang sama. Contoh: kelompok pengajian dan kelompok mahzab (sekte).

b. Gesselschaft (Patembayan)

Patembayan adalah suatu jenis ikatan lahir yang bersifat kokoh untuk waktu yang pendek, memiliki struktur yang bersifat mekanis, dan sebagai suatu bentuk dalam buah pikiran.

Contoh: ikatan antar pedagang, organisasi dalam sebuah pabrik, atau organisasi buruh.

4. Klasifikasi Kelompok berdasarkan Indentifikasi Diri

a. In-Group

In group adalah suatu perasaan perikatan antara satu orang dengan orang lain dalam suatu kelompok sosial tertentu.

Perasaan tersebut sangat solid sehingga membentuk suatu perilaku-perilaku sosial tertentu seperti solidaritas, kesediaan berkorban, kerja sama, konformitas, obediance, dll.

b. Out-Group

Out group adalah semacam perasaan dimana seseorang merasa bukan bagian dari kehidupan kelompok.

Perasaan ini selalu ditandai munculnya perilaku antogonistik dan antipati. Sehingga muncul gejala prejudice, paranoid, etnocentristic, non-koperatif, lalai, dan sebagainya.

5. Klasifikasi Kelompok berdasarkan Kualitas Hubungan antar Anggota

a. Kelompok Primer

Kelompok primer adalah jenis kelompok yang hubungan antar anggotanya saling mengenal dan bersifat informal. Contoh: keluarga, sahabat, teman, teman sepermainan.

b. Kelompok Sekunder

Kelompok sekunder adalah jenis kelompok sosial yang terbentuk dan hubungan antar anggotanya bersifat formal, impersonal, serta didasarkan pada asas manfaat. Contoh: sekolah, IDI, IDGI, dan PGRI.

6. Klasifikasi Kelompok berdasarkan Pencapaian Tujuan

a. Kelompok Formal

Kelompok ini adala kelompok yang memiliki seperangkat peraturan dan tugas yang sengaja dibuat untuk mengatur hubungan antar anggotanya. Contoh: Partai politik dan lembaga pendidikan.

b. Kelompok Informal

Kelompok informal adalah sebuah kelompok sosial yang terbentuk karena pertemuan berulang yang saling berkepentingan dengan pengalaman yang sama. Contoh: OSIS, BEM, dan Hima.

Manusia sosial seperti kita tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Salah satu bentuk kerja sama yang kita lakukan dengan orang lain yaitu dengan membentuk kelompok sosial.

Dengan bergabung di dalam sebuah kelompok sosial tertentu, kita dapat dibantu untuk menyelesaikan suatu urusan, tugas, atau tujuan dengan cara bekerja sama.

Proses Pembentukan Kelompok Sosial Lainnya

Pada prinsipnya, pembentukan suatu kelompok diawali dengan adanya persepsi, perasaan, motivasi, serta tujuan yang sama dalam memenuhi suatu kebutuhan.

Persepsi: Pembagian kelompok didasarkan pada tingkat kemampuan intelegensi yang dapat dilihat dari pencapaian akademis.

Misalnya terdapat satu anggota yang memiliki kemampuan intelektual, dan yang lainnya memiliki kemampuan bahasa yang mumpuni.

Pembagian kelompok tersebut diharapkan anggota yang memiliki kelebihan tertentu bisa menginduksi anggota lainnya.

Motivasi: Kemampuan yang setara akan memotivasi setiap kelompok untuk berkompetisi secara sehat dalam mencapai tujuan kelompok.

Sebab, perbedaan kemampuan yang ada di setiap kelompok akan memicu kompetisi internal secara sehat.

Dengan demikian dapat memicu anggota lain melalui transfer ilmu pengetahuan agar bisa memotivasi diri untuk maju.

Tujuan: Terbentuknya sebuah kelompok pasti karena sebuah tujuan yang dianggap sebagai tujuan bersama dan juga relevan dengan tujuan masing-masing individu.

Organisasi: Pengorganisasian dilakukan guna mempermudah koordinasi dan proses kegiatan kelompok. Dengan dilakukannya pengorganisasian, masalah kelompok dapat diselesaikan dengan lebih efisien dan efektif.

Independensi: Kebebasan merupakan hal penting dalam dinamika kelompok. Kebebasan di sini merupakan kebebasan setiap anggota untuk menyampaikan ide, pendapat, serta ekspresi selama kegiatan.

Meski begitu, kebebasan tetap berada dalam tata aturan yang disepakati kelompok.

Interaksi: Interaksi adalah syarat utama dalam dinamika berkelompok. Sebab, dalam sebuah interaksi akan muncul proses transfer ilmu antar anggota yang didasarkan atas kebutuhan informasi tentang suatu pengetahuan.

Faktor Pendorong Pembentukan Kelompok Sosial

Pada sebuah proses pembentukan kelompok sosial, ada sekumpulan faktor yang mendorong manusia untuk membentuk dan/atau bergabung dengan suatu kelompok.

1. Dorongan untuk Mempertahankan Hidup

Dengan bergabung seseorang dengan kelompok sosial yang telah ada atau membuat suatu kelompok sosial tertentu, dia secara tidak langsung telah berusaha mempertahankan hidupnya karena dia sadar bahwa kebutuhan hidupnya tidak bisa terpenuhi dengan hidup sendiri.

Selain itu dengan adanya kelompok sosial, hubungan manusia semakin luas sehingga kemana pun perginya seseorang tersebut akan merasa aman.

2. Dorongan untuk Meneruskan Keturunan

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua makhluk hidup mempunyai sifat alamiah yang sama, yakni meneruskan keturunan.

Di kelompok sosial itu seorang manusia akan menemukan pasangannya, sehingga dengan demikian dorongan untuk meneruskan keturunan dapat tercapai.

3. Dorongan untuk Meningkatkan Efisiensi dan Efektivitas Kerja

Di era modern seperti sekarang ini manusia dituntut untuk melakukan pekerjaan yang efektif dan efisien dan memperoleh hasil kerja yang maksimal.

Oleh sebab itu dengan adanya kelompok sosial akan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja.

Misal pada sebuah kelompok formal, adanya pembagian tugas yang jelas maka suatu pekerjaan yang lama bisa berubah menjadi lebih cepat.

Faktor Pembentuk Kelompok Sosial

Bergabung dengan sebuah kelompok bisa merupakan suatu kebetulan. Misalnya, kita terlahir dalam keluarga yang tidak kita pilih. Namun, sesudah itu, bergabung dengan kelompok sosial merupakan sebuah pilihan.

Dua faktor utama yang mempengaruhi hasil dari pilihan tersebut, yaitu kedekatan dan kesamaan.

1. Kedekatan

  • Kedekatan geografis tempat tinggal
    • Pengaruh tingkat kedekatan, atau kedekatan geografis, terhadap keterlibatan seseorang dalam sebuah kelompok tidak bisa diukur. Kita membentuk kelompok bermain dengan orang-orang di sekitar kita. Kita bergabung dengan kelompok kegiatan sosial lokal.
    • Kelompok tersusun atas individu-individu yang saling berinteraksi. Semakin dekat jarak geografis antara dua orang, semakin mungkin mereka saling melihat, berbicara, dan bersosialisasi. Singkatnya, kedekatan fisik meningkatkan peluang interaksi dan bentuk kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Jadi, kedekatan menumbuhkan interaksi, yang memainkan peranan penting terhadap terbentuknya kelompok pertemanan.
  • Kedekatan geografis daerah asal
    • Ketika seseorang merantau ke suatu tempat dan bertemu dengan orang yang sama-sama merantau dan berasal dari daerah yang sama, maka orang tersebut merasa ada ikatan batin, meskipun semula belum saling mengenal ketika masih di daerah asal.

2. Kesamaan

Pembentukan kelompok sosial tidak hanya tergantung pada kedekatan fisik, tetapi juga tentang kesamaan antar anggotanya.

Sudah menjadi naluri kita bersama, kita lebih suka berhubungan dengan orang yang memiliki kesamaan dengan diri kita.

Kesamaan yang dimaksud itu bisa bermacam hal mulai dari kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat intelejensi, hingga ke hal-hal yang sangat pribadi, misalnya kesamaan suka Indomie daripada Mi Sedaap.

Kesamaan kesamaan yang dimaksud antara lain:

  • Kesamaan kepentingan
    Dengan adanya dasar utama adalah kesamaan kepentingan maka kelompok sosial ini akan bekerja sama demi mencapai kepentingan yang sama tersebut.
  • Kesamaan keturunan
    Sebuah kelompok sosial yang terbentuk atas dasar persamaan keturunan biasanya orientasinya adalah untuk menyambung tali persaudaraan, sehingga masing-masing anggotanya akan saling berkomitmen untuk tetap aktif dalam kelompok sosial ini untuk menjaga tali persaudaraan agar tidak terputus.
  • Kesamaan nasib
    Dengan kesamaan nasib/pekerjaan/profesi, maka akan terbentuk kelompok sosial yang mewadahinya untuk meningkatkan taraf maupun kinerja masing-masing anggotanya.