Pengertian Sosiologi: Ruang Lingkup, Status, Masalah

Pengertian sosiologi secara umum

Pengertian Sosiologi

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang kategoris, artinya sosiologi membatasi diri dengan apa yang terjadi dan bukan pada apa yang seharusnya terjadi.

Sosiologi termasuk dalam ilmu pengetahuan umum dan bukan sebuah ilmu pengetahuan yang khusus. Ilmu ini mengamati dan mempelajari berbagai gejala umum yang terjadi pada setiap interaksi dalam masyarakat secara empiris.

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki sifat abstrak. Sosiologi memperhatikan pola peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Begitulah beberapa pengertian sosiologi secara umum.

Pengertian Sosiologi menurut Para Ahli

Sebagai sebuah disiplin ilmu, sosiologi lahir pada abad ke-19 tepatnya tahun 1837. Istilah sosiologi pertama kali dipakai oleh Auguste Comte yang merupakan ilmuwan sosial asal Prancis.

Istilah sosiologi terbentuk dari kombinasi kata dalam bahasa latin yakni socius yang berarti masyarakat dan logos yang memiliki arti ilmu. Jadi, pengertian sosiologi secara harfiah adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat.

Karl Marx (1818-1883)

Pertama mari kita bahas salah satu tokoh terkenal yang menelurkan teori tentang isu kapitalisme. Menurutnya, adanya kapitalisme berpotensi untuk merusak hubungan baik manusia dan bumi. Hal itu berangkat dari eksploitasi yang dilakukan para kapitalis dalam upayanya untuk memperkaya diri.

Buah pikir Marx yang sering kita jumpai kini antara lain kelas sosial, penindasan, konflik kelas sosial, dan keterasingan (alienasi). Satu konsep yang dijadikan sebagai perspektif utama dalam sosiologi adalah teori konflik sosial.

Berangkat dari teori-teori yang diungkapnya, manfaat sosiologi bagi Marx adalah dapat digunakan sebagai sebuah alat penolong kaum tertindas guna melawan dan mewujudkan cita-cita tanpa adanya konsep kelas sosial.

Max Weber

Pengertian sosiologi menurut Max Weber adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. Salah satu karya Weber yang populer adalah Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (1905) dan Ekonomi dan Masyarakat (1920).

Secara umum, Weber memiliki kajian yang dijadikan teori utama dalam sosiologi yakni tindakan sosial. Menurutnya, tindakan sosial mengarah pada segala bentuk tindakan yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang lain.

Emile Durkheim

Emile Durkheim dalam kajian sosiologi telah melakukan berbagai jenis analisis. Salah satu karyanya yang paling utama dalam ilmu sosiologi adalah tentang pembagian kerja.

Durkheim mendefinisikan sosiologi sebagai suatu studi tentang fakta sosial. Fakta sosial yang diimaksud ialah terkait pola perilaku yang menjadi ciri-ciri kelompok sosial di masyarakat.

Pendapat Ahli Sosial Lain terkait Sosiologi

Selain ketiga tokoh utama tersebut, terdapat beberapa ahli ilmu sosial lain yang turut andil dalam perkembangan sosiologi hingga saat ini, antara lain:

  • Erving Goffman berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
  • Anthony Giddens menjelaskan bahwa sosiologi merupakan suatu studi tentang kehidupan sosial manusia, kelompok, serta masyarakat.
  • C. Wright Mills beranggapan bahwa untuk memahami apa yang terjadi di dunia perlu adanya imajinasi sosiologi. Dengan begitu kita dapat memahami sejarah hidup masyarakat, riwayat pribadi, hingga hubungan antara keduanya.

Ruang Lingkup Sosiologi

Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Sosiologi awalnya termasuk dalam filsafat (induk ilmu pengetahuan; Mother of Scientarium).

Filsafat sendiri merupakan ilmu yang mencakup berbagai macam ilmu pengetahuan tentang masyarakat, sains, geografi, dan hal-hal lain, namun seiring berkembangnya zaman, ilmu-ilmu tersebut mulai memisahkan diri dan berkembang secara independen.

Sosiologi muncul pada abad XIX sebagai sebuah ilmu yang mempelajari masyarakat. Berdampingan dengan Sosiologi, ilmu Psikologi mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia.

Sosiologi sebagai Ilmu Sosial

Sosiologi digolongkan sebagai ilmu sosial sebab dalam sosiologi obyek pembelajarannya menggunakan masyarakat. Lembaga pendidikan di Indonesia mulai mengajarkan sosiologi di bangku SMA.

Status Sosial

Menurut Mayor Polak (1979), status dimaksudkan sebagai kedudukan sosial seorang oknum dalam masyarakat maupun kelompok.

Status mempunyai dua aspek, yakni aspeknya agak stabil, dan kedua aspeknya yang lebih dinamis. Polak mengatakan bahwa status mempunyai aspek struktural dan fungsional.

Status sosial dapat dibedakan atas dua macam menurut proses perkembangannya, yaitu sebagai berikut.

  1. Diperoleh atas dasar keturunan (Ascribed-Status).
  2. Diperoleh melalui usaha yang disengaja (Achieved-Status).

Peranan Sosial

Peranan sosial adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam usahanya menjalankan hak dan kewajiban dirinya sesuai dengan status sosialnya.

Seseorang dapat dikatakan memiliki peranan jika dia telah menjalankan hak dan kewajiban dirinya sesuai dengan status sosialnya di dalam masyarakat. Atas dasar definisi tersebut maka peranan dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai aspek dinamis dari status.

Masalah Sosial

Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antar unsur-unsur kebudayaan masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok sosial.

Jika terjadi bentrokan antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial, misal goyahnya kehidupan kelompok atau masyarakat.

Masalah sosial dapat muncul karena adanya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Sumber masalah sosial bisa berupa proses sosial dan bencana alam.

Ada tidaknya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan seperti tokoh masyarakat, organisasi sosial, hasil musyawarah bersama, pemerintah, dan lain sebagainya.

4 jenis faktor masalah sosial, antara lain:

  • Ekonomi: Kemiskinan, pengangguran, dll.
  • Budaya: Perceraian, kenakalan remaja, dll.
  • Biologis: Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
  • Psikologis: penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.

Kebudayaan

Secara etimologis kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah”, yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal.

Sedangkan ahli antropologi yang memberikan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Tylor dalam buku yang berjudul “Primitive Culture” yaitu keseluruhan kompleks yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sebuah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.