Translate Bahasa Jawa – Indonesia: Krama, Alus, Ngoko

  • 1
    Share

Berikut adalah layanan terjemahan atau translate bahasa Jawa ke Indonesia.

Translate Online dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Jawa Krama.

Isi kotak dengan kata/kalimat berbahasa Indonesia:

Database kamus:6181 terjemahan

https://semutaspal.com

Translate bahasa Indonesia – Jawa | semutaspal.com

Translator bahasa Jawa di atas memudahkanmu dalam mengartikan kata atau translate dari bahasa Indonesia menjadi bahasa Jawa. Termasuk untuk membuat pidato perpisahan bahasa Jawa.

Variasi bahasa Jawa yang didukung pada program translate Jawa di atas mencangkup beberapa tingkatan yang ada di dalam bahasa Jawa, yakni:

  • Bahasa Jawa Krama adalah tingkatan bahasa Jawa yang sopan.
  • Bahasa Jawa Kramantara adalah tingkatan bahasa Jawa yang berbentuk krama namun dicampur dengan bahasa Inggil.
  • Bahasa Jawa Wredha-Krama adalah bahasa Krama untuk orang yang sudah tua.
  • Bahasa Jawa Krama Pasar adalah bahasa krama dalam bentuk lisan.

Kamu bisa membaca penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian hingga macam-macam dialek bahasa Jawa di bawah ini.

Translate bahasa Indonesia ke bahasa Jawa Krama

Sebagai sebuah negara, Indonesia sangat beragam baik dari segi bahasa maupun budaya. Keragaman budaya Indonesia tersebut membuat banyak orang tertarik untuk belajar bahasa suatu daerah.

Salah satu bahasa daerah yang ada di Indonesia adalah bahasa Jawa. Bahasa ini merupakan bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia. Jika kamu tertarik untuk belajar bahasa Jawa maka alat translate bahasa Jawa di artikel ini akan berguna.

Semakin ke sini, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia saling mempengaruhi satu sama lain. Banyak kosakata bahasa Indonesia diambil dari bahasa Jawa begitupun sebaliknya, banyak diksi bahasa Indonesia yang digunakan bersama dengan bahasa Jawa dalam percakapan.

Bahasa Jawa mempunyai tingkatan yang berbeda mulai dari krama alus, krama inggil, dan ngoko. Tingkatan tersebut digunakan menurut orang yang diajak berinteraksi.

Bahasa Jawa

Translate bahasa Jawa Timur
Pura Mandara Giri Semeru Agung

Bahasa Jawa adalah bahasa orang Jawa di bagian tengah dan timur Pulau Jawa, Indonesia. Ada beberapa kantong penutur bahasa Jawa di pantai utara Jawa Barat. Ini adalah bahasa ibu bagi lebih dari 98 juta orang (lebih dari 42% dari total penduduk Indonesia).

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa Austronesia, namun tidak terlalu dekat dengan bahasa lain dan sulit untuk diklasifikasikan. Kerabat terdekatnya adalah bahasa tetangganya seperti bahasa Sunda, Madura, dan Bali.

Ada penutur bahasa Jawa di Malaysia (terkonsentrasi di pantai barat Negara Bagian Selangor dan Johor) dan Singapura. Bahasa Jawa juga digunakan oleh komunitas imigran keturunan Jawa di Suriname (koloni Belanda di Suriname hingga tahun 1975), Sri Lanka, dan Kaledonia Baru.

Sejarah Bahasa Jawa

Aplikasi translate bahasa Jawa Krama Alus

Secara sederhana, perkembangan bahasa Jawa dapat dikelompokkan dalam dua fase yang berbeda, yakni bahasa Jawa Kuno & bahasa Jawa Baru. Berikut adalah penjelasannya:

1. Bahasa Jawa Kuno

Bentuk mula-mula bahasa Jawa Kuno yang terdokumentasi dalam tulisan berasal dari tahun 804 Masehi, berada pada Prasasti Sukabumi. Pada periode abad ke-9 hingga ke-15, ragam bahasa ini umum digunakan di seluruh Pulau Jawa.

Iklan

Kaos merah

Bahasa Jawa Kuno lazimnya tertulis dalam bentuk puisi yang berbait. Ragam ini kadang juga disebut dengan istilah kawi ‘bahasa kesusastraan’ meski istilah ini juga merujuk pada unsur arkais dalam ragam tulisan bahasa Jawa Baru.

Sistem penulisan bahasa Jawa Kuno adalah adaptasi aksara Pallawa yang berasal dari India. Hampir 50% kosakata dalam tulisan-tulisan berbahasa Jawa Kuno berakar dari bahasa Sanskerta. Bahasa ini juga menyerap kosakata dari bahasa-bahasa lain di Nusantara.

Ragam bahasa Jawa Kuno yang tertulis pada beberapa naskah abad ke-14 dan setelahnya juga disebut “bahasa Jawa Pertengahan”. Meski bahasa Jawa Kuno dan Pertengahan tidak lagi digunakan setelah abad ke-15, namun ragam bahasa ini masih digunakan di Bali untuk ritual keagamaan.

2. Bahasa Jawa Baru

Bahasa Jawa Baru berkembang menjadi ragam leterer utama bahasa Jawa sejak abad ke-16. Peralihan ini terjadi secara bersamaan dengan munculnya pengaruh Islam di Jawa.

Pada awalnya, ragam baku dari bahasa Jawa Baru didasarkan pada ragam bahasa di pantai utara Jawa yang masyarakatnya ketika itu sudah beralih menjadi Islam.

Karya tulis dalam ragam bahasa ini kental dengan nuansa islami, yang sebagiannya merupakan terjemahan dari bahasa Melayu. Bahasa Jawa Baru turut mengadopsi huruf Arab dan menyesuaikannya menjadi huruf Pegon.

Kebangkitan Mataram menyebabkan pusat kebudayaan ragam tulisan baku bahasa Jawa beralih dari pesisir utara ke pedalaman. Ragam tulisan ini kemudian dilestarikan oleh penulis-penulis Surakarta dan Yogyakarta, dan menjadi dasar bagi ragam baku bahasa Jawa di masa sekarang.

Perkembangan bahasa lainnya yang diasosiasikan dengan munculnya Mataram Islam pada abad ke-17 adalah pembedaan antara tingkat tutur ngoko dan krama. Pembedaan tingkat tutur ini tidak dikenal dalam ragam bahasa Jawa Kuno.

Buku cetak yang menggunakan bahasa Jawa mulai muncul sejak tahun 1830-an, awalnya dalam aksara Jawa, meski kemudian alfabet Latin juga digunakan. Sejak pertengahan abad ke-19, bahasa Jawa mulai digunakan dalam penulisan novel, cerita pendek, dan puisi bebas.

Kini, bahasa Jawa telah digunakan di berbagai media, mulai dari buku hingga acara televisi. Ragam bahasa Jawa Baru yang digunakan sejak abad ke-20 hingga sekarang bisa disebut sebagai “bahasa Jawa Modern”.

Sistem Penulisan

Kini, bahasa Jawa Modern ditulis dengan menggunakan tiga jens aksara yakni aksara Jawa, abjad Pegon, dan alfabet Latin. Berikut penjelasan singkat ketiganya.

1. Aksara Jawa

Translate bahasa Jawa - Indonesia
Aksara Jawa

Aksara Jawa adalah aksara rumpun Brahmi yang diturunkan dari aksara Pallawa melalui aksara Kawi. Abjad ini muncul pada abad ke-16 tepatnya pada era kejayaan hingga akhir Kerajaan Majapahit.

Urutan aksara Jawa secara tradisional menggunakan pengurutan Hanacaraka. Pengurutan aksara tersebut diciptakan menurut legenda Aji Saka ketika mengenang dua orang pembantunya, Dora dan Sembada, yang berselisih paham tentang pusaka miliknya.

Sembada ingat bahwa hanya Aji Saka yang boleh mengambil pusaka tersebut, namun Dora diminta Aji Saka untuk membawakan pusaka Aji Saka ke Tanah Jawa. Perselisihan keduanya berujung pada pertarungan sengit; mereka memiliki kesaktian yang setara dan keduanya pun tumpas.

Pada saat ini, aksara Jawa digunakan secara luas di ruang publik, terutama di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Aksara Jawa ditulis bersandingan dengan alfabet Latin pada papan nama jalan, papan nama instansi, maupun nama tempat umum lainnya.

Aksara yang berkerabat dengan aksara Jawa adalah aksara Bali dan Carakan Cirebon, keduanya adalah turunan dari versi awal aksara Jawa pada abad ke-16.

2. Abjad Pegon

Abjad Pegon

Muncul bersama masuknya Islam ke Jawa dan berkembang selama masa kejayaan Kerajaan Demak hingga Pajang, abjad Pegon yang terkait dengan abjad Jawi (Arab-Melayu) mengadopsi huruf Arab standar dan ditambahkan huruf baru yang sama sekali tidak terkait dengan Arab.

Huruf-huruf pegon tidak bisa dipahami oleh orang Arab sebelum orang Arab memahami dan menguasai bahasa Jawa. Jika abjad Jawi selalu tanpa harakat (penanda vokal), beberapa abjad Pegon ada yang berharakat. Pegon yang tidak berharakat disebut sebagai Gundhil.

Abjad Pegon adalah materi wajib yang diajarkan di banyak pesantren Jawa. Kata pegon berarti “menyimpang”, maksudnya adalah bahasa Jawa yang ditulis menggunakan abjad Arab adalah sesuatu yang tidak lazim.

3. Alfabet Latin

Latinisasi bahasa-bahasa Nusantara telah terjadi sejak zaman kolonial Belanda. Pada abad ke-17, teknologi percetakan mulai diperkenalkan di Hindia Belanda. Namun tak serta merta mempermudah Belanda untuk menuliskan bahasa Jawa dengan alfabet Latin.

Alfabet Latin mulai diintensifkan untuk mentranskripsi karya-karya beraksara Jawa dan Pegon pada abad ke-19. Dengan kompleksnya penulisan aksara Jawa, transkripsi itu jelas membutuhkan sebuah standar yang dipakai bersama.

Standar yang pertama kali dipakai untuk transkripsi aksara Jawa ke Latin adalah Paugeran Sriwedari, diciptakan di Solo pada tahun 1926.

Aksara Lain

Pada masa lampau, bahasa Jawa kuno ditulis dengan aksara Kawi dan aksara Nagari. Penggunaannya banyak ditemukan di prasasti-prasasti abad ke-8 hingga abad ke-16 Masehi, aksara ini terus mengalami perkembangan baik dari segi bentuk dan tipografinya.

Dialek Bahasa Jawa

Dialek

Menurut penuturan J. J. Ras yang merupakan seorang profesor bahasa dan sastra Jawa di Universitas Leiden, bahasa Jawa memiliki beberapa dialek yang dikelompokan berdasarkan persebarannya.

Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah barat:

  • Banyumas-Bagelen (Banyumasan)
  • Indramayu-Cirebon
  • Tegal-Brebes-Pekalongan
  • Banten

Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah tengah:

  • Surakarta-Yogyakarta (Mataram)
  • Madiun-Kediri-Blitar (Mataraman)
  • Semarang-Demak-Kudus-Jepara (Semarangan)
  • Blora-Rembang-Pati

Dialek-dialek yang dipertuturkan di wilayah timur:

  • Surabaya-Malang-Pasuruan (Arekan)
  • Banyuwangi (basa Using)

Script program translate bahasa Jawa di atas ditulis dan diberdayakan oleh pengelola udintegal.blogspot.com.


  • 1
    Share