Pengertian Kalimat: Semua Makna yang Dirangkai

Pengertian kalimat

Pembahasan Semut Aspal kali ini berkaitan dengan kalimat mulai dari pengertian kalimat, ciri-ciri, unsur, jenis, dan tentu contohnya.

Kalimat adalah satuan bahasa yang terbentuk dari rangkaian kata dan frasa. Kalimat secara mandiri dapat dipahami dan dimaknai.

Dalam ragam lisan, kalimat diucapkan dengan intonasi, keras lembut, dan disela jeda. Sedangkan dalam ragam tulis, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanya, maupun seru.

Peran kalimat sangatlah penting karena mampu menyampaikan suatu informasi, menanyakan suatu hal, dan tentunya mengekspresikan emosi.

Pengertian kalimat menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan.

Pengertian Kalimat menurut Para Ahli

Berikut ini adalah pengertian menurut para ahli, antara lain:

Pengertian kalimat menurut Kridalaksana (2001:92)
Kridalaksana mendefinisikan kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa; klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.

Pengertian kalimat menurut Keraf (1984:156)
Keraf mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran itu sudah lengkap.

Pengertian kalimat menurut Alwi dkk. (2000:311)
Mereka memaparkan bahwa, “Dalam wujud tulisan, kalimat diucapkan dalam suara naik-turun dan keras-lembut disela jeda, diakhiri intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan, baik asimilasi bunyi maupun proses fonologis lainnya”.

Pengertian kalimat menurut Dardjowidojo (1988: 254)
Menurutnya, kalimat merupakan bagian terkecil dari suatu ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan.

Pengertian kalimat menurut Slamet Muljana (1969)
Slamet Muljana mendefinisikan kalimat sebagai keseluruhan pemakaian kata yang berlagu, disusun menurut sistem bahasa yang bersangkutan; mungkin yang dipakai hanya satu kata, mungkin lebih.

Pengertian kalimat dalam buku Chaer (1994:240)
Dalam buku itu tertulis bahwa “Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap”.

Selain itu, pengertian kalimat dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan.

Ciri-Ciri Kalimat dalam Bahasa Indonesia

Menurut Susilo (1990:2), terdapat lima ciri-ciri kalimat dalam bahasa Indonesia.

  • Bermakna,
  • Bersistem urutan frase,
  • Mampu berdiri secara mandiri,
  • Berjeda,
  • Berhenti dengan berakhirnya sebuah intonasi.

Meski hal tersebut belum menjamin bahwa sebuah kalimat itu adalah kalimat baku dalam bahasa Indonesia.

Ciri-Ciri Kalimat secara Umum

  • Pada ragam lisan diawali dengan kesenyapan serta diakhiri dengan kesenyapan pula.
  • Pada ragam tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik, tanda tanya, atau tanda seru.
  • Kalimat aktif minimal terdiri dari satu subyek dan predikat.
  • Predikat transitif disertai dengan objek dan predikat intransitive bisa disertai dengan pelengkap.
  • Terdapat makna yang jelas.
  • Urutan setiap kata maupun frasanya logis dan mendukung fungsi (SPOK).

Unsur-Unsur Kalimat

Sudah disinggung sebelumnya, dalam 1 kalimat tentu memiliki unsur dalam penyusun kalimat. Hasil perpaduan unsur-unsur tersebut itulah yang nantinya akan membentuk suatu kalimat.

Satu-satunya syarat yang harus terpenuhi agar untaian kata bisa disebut kalimat adalah adanya subyek dan predikat, jika tidak, kemungkinan besar itu hanya frasa.

Kalimat terbentuk dari beberapa unsur di bawah ini.

  • Subjek (S),
  • Predikat (P),
  • Objek (O),
  • Pelengkap,
  • Keterangan (K).

Mari kita bahas ini juga satu per satu.

Subjek

Subjek merupakan pelaku atau sesuatu yang melakukan kegiatan tertentu. Subjek bisa berbentuk sebuah kata benda, nomina atau frasa nomina, frasa kata benda, atau kata kerja.

Di dalam pola penulisan kalimat, subjek umumnya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi.

Contoh:

  • Sepeda (kata benda),
  • 3 kalimat (frasa nomina),
  • Bella yang cantik (frasa kata benda),
  • Makan (kata kerja).

Catatan penting mengenai subyek:

  • Jawaban atas pertanyaan “apa” dan “siapa”,
  • Dapat disertai kata “ini”, “itu”, atau “tersebut”,
  • Mempunyai keterangan pewatas “yang” (penghubung),
  • Biasanya tidak didahului preposisi,

Predikat

Predikat merupakan unsur kalimat yang menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh subjek.

Predikat biasanya berbentuk sebuah kata kerja, frasa kata kerja, frasa nomina, kata benda, frasa kata benda, frasa preposisi (kata depan), kata sifat, atau frasa kata sifat.

Contoh:

  • Minum (kata kerja),
  • Sedang berlari (frasa kata kerja),
  • Tiga ekor (frasa nomina),
  • Pengusaha (kata benda),
  • Pengusaha ayam (frasa kata benda),
  • Ke kantor (frasa preposisi),
  • Tampan (kata sifat),
  • Sangat tampan (frasa kata sifat).

Catatan penting mengenai predikat:

  • Jawaban atas pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”,
  • Dapat berupa kata “adalah”, “yakni”, “yaitu” atau “ialah”,
  • Dapat diingkarkan yang diwujudkan oleh kata “tidak”,
  • Dapat disertai modalitas seperti sedang, telah, sudah, belum, akan, ingin, hendak, mau, atau yang lainnya.

Objek

Kalimat dapat terbentuk tanpa objek maka dapat dikatakan bahwa objek tidak harus selalu ada dalam kalimat. Objek biasanya terletak setelah predikat verbal aktif transitif (-kan, -i, me-).

Objek adalah sesuatu yang dikenai tindakan subyek. Sama seperti subjek, objek dapat berupa kata benda atau frasa kata benda.

Obyek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subyek jika kalimatnya dipasifkan. Begitu juga sebaliknya, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya diubah menjadi kalimat aktif.

Objek dan pelengkap mempunyai kesamaan yaitu berada di belakang predikat serta tidak didahului preposisi. Tentu keduanya juga memiliki perbedaan bila mereka disusun dalam sebuah kalimat pasif.

Dalam sebuah kalimat pasif, pelengkap tidak menjadi subjek sama seperti objek.

Contoh:

  • Soraya (kata benda),
  • Dalam tas (frasa kata benda),
  • Sang pangeran (frasa kata benda),
  • Si angsa (frasa kata benda).

Catatan penting mengenai obyek:

  • Berada di belakang predikat,
  • Berubah menjadi subjek dalam kalimat pasif,
  • Tidak diawali dengan preposisi,
  • Dapat didahului dengan kata “bahwa”.

Pelengkap

Pelengkap atau komplemen sering dianggap sama dengan objek. Padahal, pelengkap berbeda fungsi dengan objek.

Pelengkap bisa mengikuti suatu predikat yang berimbuhan ber-, ter-, ber-an, ber-kan, dan kata-kata khusus misal merupakan, berdasarkan, dan menjadi.

Contoh:

  • Kekar,
  • Warna-warni.

Catatan penting mengenai pelengkap:

  • Berada di bagian belakang kalimat,
  • Tidak didahului preposisi.

Keterangan

Keterangan merupakan unsur kalimat yang berfungsi sebagai bagian yang menjelaskan sesuatu lebih lanjut dengan tujuan semakin jelasnya kalimat.

Keterangan dapat berwujud kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berwujud frasa ditandai dengan preposisi dan keterangan yang berwujud anak kalimat ditandai dengan konjungsi.

Macam-Macam Keterangan

Keterangan dapat dibedakan berdasarkan fungsi dan perannya dalam suatu kalimat. Ada setidaknya delapan macam keterangan yang sering kita temui.

Keterangan Waktu

Keterangan waktu dapat berbentuk kata, frasa, maupun anak kalimat. Kata yang bisa menyatakan waktu antara lain kemarin, besok, sekarang, kini, lusa, siang, dan malam.

Frasa yang dapat menyatakan waktu antara lain kemarin pagi, hari Senin, 7 Mei, dan minggu depan.

Keterangan waktu yang berupa anak kalimat ditandai dengan adanya konjungsi yang menyatakan waktu, misalnya setelah, sesudah, sebelum, saat, sesaat, sewaktu, dan ketika.

Contoh: Bulan depan akan diadakan cuti bersama.

Keterangan Tempat

Keterangan ini biasanya berbentuk frasa yang menyatakan tempat. Keterangan tempat biasanya ditandai dengan adanya preposisi.

Contoh:

  • Di kamar,
  • Di depan,
  • Di kantor.
Keterangan Cara

Keterangan cara dapat berupa kata ulang, frasa, atau anak kalimat yang menjabarkan proses terjadinya sesuatu. Keterangan cara yang menggunakan kata ulang biasanya adalah perulangan adjektiva.

Keterangan cara yang menggunakan frasa ditandai dengan adanya kata “dengan” atau “secara”.

Terakhir, keterangan cara yang berbentuk anak kalimat ditandai dengan adanya kata “dengan” dan “dalam”. Keterangan cara juga mencakup keterangan alat.

Keterangan cara: dengan cepat, dengan bersemangat, dengan serius, dan secara serius.
Keterangan alat: dengan menggunakan gergaji dan dengan memakai kapas.

Keterangan Sebab

Keterangan sebab bisa berbentuk frasa maupun anak kalimat. Biasanya keterangan ini ditandai dengan adanya kata “karena”, “lantaran”, “sebab”, “disebabkan”, atau “dikarenakan”.

Contoh: karena cuaca sudah mendung.

Keterangan Tujuan

Keterangan ini bisa berupa frasa maupun anak kalimat. Keterangan tujuan yang berupa frasa ditandai dengan digunakannya kata “untuk” atau “demi” sedangkan yang berupa anak kalimat ditandai oleh konjungtor “supaya”, “agar”, atau “untuk”.

Contoh: agar terlihat, untuk bertemu, dan supaya bersih.

Keterangan Aposisi

Keterangan aposisi memberi sebuah penjelasan pada nomina, misalnya pada subjek atau objek. Jika ditulis, keterangan ini diapit tanda koma, tanda pisah, dan tanda pisah.

Contoh: Dosen saya, Bu Tari, terpilih sebagai dosen teladan.

Keterangan Tambahan

Keterangan tambahan memberi penjelasan nomina namun tidak sama persis dengan keterangan aposisi. Keterangan aposisi dapat menggantikan unsur yang dijelaskan, sedangkan keterangan tambahan tidak dapat melakukannya.

Contoh: Yunita, mahasiswi tingkat tiga, mendapat beasiswa.

Keterangan Pewatas

Keterangan pewatas memberikan sebuah pembatas pada nomina, misalnya pada subjek, predikat, objek, keterangan, atau pelengkap. Keterangan pewatas tidak dapat ditiadakan di kesempatan-kesempatan tertentu.

Contoh: Siswa yang melakukan pelanggaran mendapatkan poin.

Struktur Kalimat

Tahukah kamu, semua kalimat yang kita gunakan berasal dari struktur dan pola kalimat yang sangat sederhana. Sesuai dengan kebutuhannya, pola dasar tersebut digunakan berdasarkan kaidah tertentu.

Kalimat Dasar Berpola S P

Tipe kalimat dasar ini hanya memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, frasa kata kerja, kata benda, frasa kata benda, kata sifat, frasa kata sifat, bilangan, atau frasa bilangan.

Contoh:

  • Bella / berenang. = S / P (kata kerja).
  • Ibunya / seorang dosen. = S / P (frasa kata benda).
  • Lukisan itu / sangat bagus.= S / P (frasa kata sifat).
  • Peserta diklat ini / empat puluh orang. = S / P (frasa bilangan).

Kalimat Dasar Berpola S P O

Tipe kalimat dasar ini menggunakan unsur subjek, predikat, dan objek. Subjek dapat berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nomina.

Contoh:

  • Dia / sedang menyusun / karangan bunga. = S / P / O.
  • Gading / mengendarai / mobil. = S / P / O.

Kalimat Dasar Berpola S P Pel.

Tipe kalimat dasar ini menggunakan unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek menggunakan nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva.

Contoh:

  • Anaknya / mewarnai / merah. = S / P / Pel.
  • Keluarganya / berangkat / liburan. = S / P / Pel.

Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.

Tipe kalimat dasar ini menggunakan subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Subjek menggunakan nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba transitif, objek berupa nomina atau frasa nomina, dan pelengkap berupa nomina atau frasa nomina.

Contoh:

  • Vanesa / mengirimi / saya / surat. = S / P / O / Pel.
  • Supir bus / mengemudikan / bus ini / sembarangan. = S / P / O / Pel.

Kalimat Dasar Berpola S P K

Tipe kalimat dasar ini menggunakan subjek, predikat, dan memiliki keterangan. Subjek menggunakan nomina atau frasa nomina, predikat memakai verba intransitif, dan keterangan berupa frasa yang menggunakan preposisi.

Contoh:

  • Aku / berasal / dari Surabaya. = S / P / K.
  • Andin / memasak / tadi pagi. = S / P / K.
  • Dia / jalan / di malam hari. = S / P / K.

Kalimat Dasar Berpola S P O K

Tipe kalimat dasar ini menggunakan subjek, predikat, objek, dan keterangan. Subjek menggunakan nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba transitif, objek berupa nomina atau frasa nomina, dan keterangan berbentuk frasa berpreposisi.

Contoh:

  • Aku / sedang melipat / pakaian / di kamar. = S / P / O / K.
  • Indah / membuat / jus / di dapur. = S / P / O / K.
  • Kinna / sudah mencuci / bajunya / tadi pagi. = S / P / O / K.

Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K

Tipe kalimat dasar ini menggunakan subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan. Subjek menggunakan nomina atau frasa nomina, predikat menggunakan verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa dengan preposisi.

Contoh:

  • Tomi / terharu / ketika / naik kelas. = S / P / Pel. / K.
  • Friskila / bermain / saat / di sana. = S / P / Pel. / K.
  • Aku / bahagia / saat / denganmu. = S / P / Pel. / K.

Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K

Tipe kalimat dasar ini menggunakan unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

Subjek menggunakan nomina atau frasa nomina, predikat menggunakan verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nomina, pelengkap berupa nomina atau frasa nomina, dan keterangan berupa frasa dengan preposisi.

Contoh:

  • Dia / menangisi / ibunya / saat / di kereta. = S / P / O / Pel. / K.
  • Ayah / membelikan / Aldi / ketika / di Semarang. = S / P / O / Pel. / K.

Jenis–Jenis Kalimat

Klasifikasi kalimat dapat digolongkan menurut berbagai kriteria dan sudut pandang. Oleh sebab itu, dalam kepustakaan linguistik serta beberapa buku tata bahasa banyak ditemukan istilah untuk membedakan setiap jenis kalimat.

Penggolongan berdasarkan Makna

Jika ditinjau dari segi makna komunikatifnya maka kalimat dikelompokkan menjadi lima macam yakni kalimat berita, perintah, tanya, dan seru.

Kalimat Berita

Kalimat berita juga bisa disebut sebagai kalimat deklaratif. Kalimat deklaratif menyatakan sebuah informasi.

Contoh:

  • Aku lupa mematikan lampu kamar mandi.
  • Bapak sedang bekerja.

Dalam ragam tulis, kalimat berita harus diakhiri dengan tanda baca titik. Sedangkan dalam ragam lisan, kalimat berita biasanya diakhiri dengan nada turun.

Kalimat Perintah

Kalimat perintah juga bisa disebut sebagai kalimat imperatif. Kalimat imperatif merupakan kalimat yang digunakan untuk memerintah.

Pada umumnya, kalimat perintah memiliki bentuk tak transitif dan transitif (baik aktif maupun pasif).

Contoh:

  • Jangan ganggu!
  • Tutuplah pintunya!

Dalam ragam tulis, kalimat perintah seringkali diakhiri dengan tanda seru, meski tanda baca titik juga bisa digunakan. Sedangkan dalam ragam lisan, nada yang dilontarkan sedikit tinggi.

Pembahasan lebih lanjut mengenai kalimat perintah.

Kalimat Tanya

Kalimat tanya juga bisa disebut sebagai kalimat interogatif. Kalimat interogatif merupakan kalimat yang bisa dibuat untuk menanyakan tentang suatu hal.

Beberapa cara yang bisa digunakan untuk membentuk sebuah kalimat tanya.

  • Menambahkan kata tanya dan variasinya,
  • Membalikan urutan katanya,
  • Menggunakan kata “bukan”, “tidak”, dan variasinya,
  • Mengubah intonasi seperti sedang bertanya.

Kalimat Seru

Kalimat seru juga bisa disebut sebagai kalimat interjektif. Kalimat interjektif merupakan kalimat yang dipakai untuk menyampaikan kekaguman, kekagetan, dan reaksi spontan terhadap suatu hal.

Sehingga dalam penggunaannya menggunakan tanda seru.

Penggolongan berdasarkan Struktur Gramatikal

Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal merupakan suatu kalimat yang hanya terdiri dari satu pola kalimat.

Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk merupakan suatu kalimat yang setidaknya dua pola kalimat. Kalimat majemuk seharusnya terdiri dari satu induk kalimat dan anak kalimat.

Jenis-jenis kalimat majemuk antara lain kalimat majemuk setara, kalimat majemuk rapatan, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.

Untuk pembahasan lebih lanjut silakan buka artikel kalimat simpleks dan kalimat kompleks.

Penggolongan berdasarkan Unsur Kalimat

Kalimat Lengkap
Kalimat lengkap mengikuti pola dasar dari suatu kalimat, baik yang sudah dikembangkan maupun belum. Penggunaan unsur-unsurnya juga jelas sehingga dapat dengan mudah dipahami.

Contoh: Warna hitam melambangkan ketegasan.

Kalimat Tidak Lengkap
Sama seperti namanya, kalimat tidak lengkap tidak memiliki syarat formal sebuah kalimat. Pada umumnya, kalimat semacam ini berupa semboyan, perintah, salam, pertanyaan, ajakan, seruan, jawaban, larangan, dan sapaan.

Contoh: Kapan pulang?

Penggolongan berdasarkan Diathesis Kalimat

Kalimat Aktif
Kalimat yang subjeknya melakukan aktivitas terhadap objeknya. Kata kerja kalimat aktif biasa ditandai dengan awalan “me-“. Ada beberapa predikat kalimat aktif yang tidak disertai awalan “me-” misalnya “makan” dan “minum”.

Contoh : Brandon menggunakan kaleng untuk menciptakan bunyi.

Kalimat Pasif
Kebalikan dari kalimat aktif, kalimat pasif membalik penempatan subyek menjadi obyek. Kalimat pasif kata kerjanya memakai awalan “di-” atau “ter-“.

Contoh:

  • Perangkat lunak ini dibangung oleh pengembang populer.
  • Kakiku terinjak anjingmu.

Penggolongan berdasarkan Urutan kata

Kalimat Normal
Kalimat adalah kalimat yang subjeknya mendahului predikat. Penggunaannya sangat lazim digunakan.

Kalimat Inverse
Kalimat ini adalah kebalikan dari kalimat normal. Dimana predikatnya mendahului objek.

Kalimat Minor
Kalimat minor memiliki satu inti fungsi gramatikal. Beberapa contoh penggunaan kalimat minor adalah kalimat tambahan, jawaban, salam, panggilan, maupun judul.

Kalimat Mayor
Kalimat mayor hanya memiliki subyek dan predikat saja. Objek pelengkap dan juga keterangan dapat dipakai sesuka hati. Sama halnya dengan yang ada di pola dasar S P.

Penggolongan berdasarkan Pengucapan

Kalimat Langsung
Kalimat yang secara detail meniru kalimat yang diujarkan oleh pihak pertama. Tanda baca petik dua dipakai dalam kalimat langsung. Kutipan dalam kalimat langsung dapat berupa kalimat interogatif, kalimat deklaratif, maupun kalimat imperatif.

Contoh: “Buka pintunya!”, bentak ayahku.

Kalimat Tak Langsung
Kalimat ini menjelaskan kalimat yang diujarkan pihak lain dalam bentuk kalimat deklaratif.

Contoh: Gina berkata padaku bahwa lebih baik kamu daripada dirinya.