Penulisan Tanda Baca yang Perlu Diketahui

Tanda baca adalah simbol yang tidak berhubungan dengan fonem, kata, dan frasa pada suatu bahasa. Dalam teks bahasa Indonesia, tanda baca berperan untuk menunjukkan struktur suatu tulisan, intonasi, dan jeda ketika teks tersebut dibaca.

Ketiadaan tanda baca bisa menimbulkan kerancuan makna. Jadi fungsi tanda baca dalam penggunaannya tidak kalah dengan huruf kapital.

Contoh tanda baca yang ada dalam aturan tulis bahasa Indonesia adalah spasi, titik, koma, dan titik dua.

Berikut adalah beberapa pedoman penggunaan tanda baca berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Mari kita mulai.

Aturan penggunaan tanda baca

Penggunaan Spasi

Tanda spasi ini unik. Dia tidak terlihat seperti namanya, jarak.

Karena saking uniknya, kita sering salah menggunakannya. Padalah penggunaan spasi sesudah tanda baca relatif mudah.

Ada beberapa aturan yang bisa saya bagikan yakni tidak perlu ada spasi sebelum tanda tanya, tanda seru, titik koma, dan juga tanda titik.

Sebaliknya, setelah tanda baca titik, tanda tanya, tanda seru, dan titik koma harus ada spasi.

Tanda Titik (.)

1. Tanda titik harus digunakan untuk mengakhiri kalimat berita. Ini adalah aturan penggunaan tanda baca paling sederhana yang harus kamu pahami.

Contoh: Ibuku gemar menjahit baju.

Untuk memulai sebuah kalimat baru, tambahkan satu spasi sebelum huruf kapital pertama kalimat tersebut.

2. Tanda titik digunakan setelah singkatan nama seseorang. Contoh: George W. Bush, W.R. Soepratman

Apabila yang dituliskan nama lengkap, tanda titik tidak perlu dipergunakan. Contoh: Kirana Tessa

3. Tanda titik digunakan pada akhir singkatan nama gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan. Contoh: dr. (dokter), S.T. (sarjana teknik), Kol. (kolonel), sdr. (saudara)

4. Tanda baca titik digunakan pada singkatan atau ungkapan yang sudah lazim. Pada singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih, hanya perlu satu tanda titik.

Contoh: dll. yang merupakan singkatan dari dan lain-lain.

5. Tanda titik dipakai dalam penunjukkan waktu dan jangka waktu untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik.

Contoh:

  • Pukul 9.10.12 (pukul 9 lewat 10 menit 12 detik)
  • 1.20.30 jam (1 jam, 20 menit, 30 detik)

6. Titik dapat dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan serta kelipatannya. Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 9.001.156 jiwa. Luas wilayahnya kurang lebih 100.721 meter persegi.

Tidak Perlu Tanda Titik

7. Tanda titik tidak perlu dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan dan kelipatannya apabila tidak bermaksud menunjukkan jumlah seperti yang dimaksud di poin 6.

Contoh:

  • Nama Alan muncul di halaman 1290 dan dicetak tebal.
  • Nomor giro 033983 telah saya berikan kepada Rendi.

8. Tanda titik tidak digunakan dalam singkatan nama resmi lembaga pemerintah yang berkaitan dengan pemerintahan, badan atau organisasi, nama dokumen resmi maupun akronim yang telah diterima masyarakat luas.

Contoh: DPD (Dewan Perwakilan Daerah)

9. Tanda titik tidak boleh digunakan untuk singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, serta mata uang.

Contoh: Temanku lupa membawa penggaris 30cm sehingga ia terpaksa membeli penggaris plastik seharga Rp500,00 di koperasi.

10. Tanda titik tidak digunakan di akhir kalimat judul yang berperan sebagai kepala karangan, kepala ilustrasi, tabel, dan lain sebagainya.

Contoh:

  • Latar Belakang
  • Daftar Pustaka
  • Rumusan Masalah
  • Lampiran

11. Titik tidak perlu dipakai di pertengahan kalimat tanya. Apabila perlu penggunaan titik, maka kalimat sebelum tanda titik harus berupa pernyataan. Kita dapat juga menggunakan tanda koma jika diperlukan.

Contoh:

  • Kalau saya tidak membantu, bagaimana kamu dapat di sini?
  • Menurutmu, apakah kita akan berhasil?
  • Apa kita telah merdeka? Aku merasa, kita belum merdeka seutuhnya.

Penggunaan Tanda Baca Koma (,)

Berikut adalah aturan penggunaan tanda baca koma dalam ragam tulis bahasa Indonesia.

1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur pemerincian atau pembilangan.

Contoh:

  • Saya menjual kemeja, kaus, dan celana.
  • Saya sudah membeli meja, kursi, dan lampu kemarin.
  • Saya membeli gula, merica dan garam.

Catatan: Di atas adalah salah satu contoh penggunaan tanda koma sebelum kata dan. Sebelum kata dan dalam perincian di atas (lebih dari 2) harus menggunakan tanda baca koma.

Contoh penggunaan tanda baca yang salah:

  • Saya menjual kemeja, kaus dan celana.
  • Saya sudah membeli meja kursi dan lampu kemarin.
  • Saya membeli gula merica, dan garam.

2. Tanda koma digunakan untuk pemisahan antar kalimat setara, biasanya didahului oleh kata: seperti, tetapi, dan melainkan. Contoh: Saya membuat blog, tetapi tidak mendapatkan penghasilan.

3a. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat dengan induk kalimat apabila anak kalimat mendahului induk kalimat.

Contoh:

  • Jika nanti hujan, saya tidak akan datang.
  • Karena sibuk, ia lupa dengan saya.

3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat berada di belakang induk kalimat. Contoh: Saya tidak akan datang kalau nanti hujan.

4. Tanda koma bisa digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang berada di awal kalimat. Termasuk di dalamnya: jadi, oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.

Contoh:

  • Oleh karena itu, kamu harus datang besok.
  • Jadi, saya tidak jadi suka itu.

5. Tanda koma digunakan di belakang kata-kata seperti oh, ya, wah, aduh, kasihan, yang berada di awal kalimat.

Contoh:

  • Oh, begitu.
  • Wah, besarnya.

Penggunaan Lain

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain kalimat. Contoh: Kata temanku, “Aku terlihat sangat sedih”.

7. Tanda koma digunakan di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, dan nama tempat yang ditulis berurutan.

Contoh:

  • Surakarta, 5 Juli 2000
  • Magetan, Indonesia.

8. Tanda koma digunakan sebagai pemisah nama yang dibalik susunannya untuk penulisan daftar pustaka. Contoh: Ferdianto, Erfan, 2019. Meningkatkan Pendapatan Toko secara Daring. Jilid 6 dan 7. Klaten: PT Mencari Cinta Sejati

9. Tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian dalam catatan kaki. Contoh: I. Firman, Informasi dalam Twitter. (Sukabumi: PT Mencari Cinta Sejati, 2010), hlm. 14.

10. Untuk membatasi singkatan gelar diperlukan tanda koma di antara nama orang dan gelar akademik yang telah ia raih untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Sebagai contoh: Linda Wendi, S.E.

11. Tanda koma digunakan di awal angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:

  • 53,5ha
  • Rp80,5

12. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan yang bersifat tidak membatasi. Contoh: Penulis favorit saya di sini adalah seorang pria tampan, Dimas, yang sangat pintar.

13. Tanda koma digunakan di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca dan makna.

Contoh: Dalam permasalahan kali ini, kita perlu berpikir kritis.
Bandingkan dengan: Kita perlu berpikir kritis dalam permasalahan kali ini.

14. Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika kalimat tersebut diakhiri dengan tanda tanya atau tanda seru. Contoh: “Di mana Tejo kerja?” tanya Yanto.

Catatan: Dalam banyak kasus, tidak perlu menggunakan huruf kapital di belakang tanda koma.

Penggunaan Tanda Baca Titik Koma (;)

Setidaknya ada 2 fungsi tanda baca titik koma, yaitu:

1. Tanda titik koma dapat kita gunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat sejenis dan setara. Contoh: Malam makin larut; aku belum selesai juga dengan urusan ini.

2. Tanda titik koma bisa kita pakai untuk memisahkan kalimat setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti konjungsi.

Contoh:

Ayah mencari makan untuk sapinya; ibu sibuk memasak di dapur; adik menghafalkan nama-nama provinsi Indonesia; saya sendiri sedang asyik menonton video di YouTube.

Penggunaan Tanda Baca Titik Dua (:)

Berikut adalah beberapa aturan penggunaan tanda baca titik dua.

1. Tanda titik dua digunakan di akhir suatu pernyataan lengkap apabila diikuti pemerian.

Contoh:

  • Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, rak sepatu, meja makan, dan lemari.
  • Fakultas itu memiliki dua jurusan: Teknik Informatika dan Sistem Informasi.

2. Tanda titik dua ditulis setelah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

  • Ketua: Andre
  • Wakil Ketua: Nadya
  • Sekretaris: Hermawan
  • Wakil Sekretaris: Indra
  • Bendahara: Farah
  • Wakil bendahara: Bella

3. Tanda titik dua digunakan dalam teks drama setelah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:

Rendra: “Jangan lupa selesaikan tugas hari ini! Saya butuh itu besok.”
Kinna: “Siap, Boss!”

4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid dan halaman, (ii) di antara pasal dan ayat dalam kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul sebuah karangan.

Misal:

(i) Tempo, I (1972), 14:7
(ii) Yohanes 3:16
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, telah terbit dan tersedia di toko buku terdekat.

5. Tanda titik dua digunakan untuk menandakan nisbah (angka banding). Contoh: Perbandingan populasi pria terhadap wanita di Kota X adalah 3:1.

6. Tanda titik dua tidak dipakai apabila sebuah rangkaian atau pemerian merupakan pelengkap yang mengakhiri sebuah pernyataan. Contoh: Kita memerlukan kursi, rak sepatu, meja makan, dan juga lemari.

Tanda Hubung (-)

Berikut adalah aturan penggunaan tanda hubung.

1. Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan unsur-unsur kata ulang. Contoh: anak-anak, berulang-ulang, dan kemerah-merahan.

Tanda ulang singkatan (misal pangkat 2 dan 2x) hanya digunakan untuk penulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan dan resmi.

2. Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan huruf kata yang dieja huruf per huruf dan bagian-bagian tanggal.

Contoh:

  • b-a-p-a-k-u
  • 18-9-1978

3. Tanda hubung bisa dipakai untuk memperjelas hubungan antar bagian dalam sebuah ungkapan.

Mari bandingkan agar jelas:

  • ber-evolusi dengan be-revolusi
  • tiga puluh dua-ribuan (30×2000) dengan tiga-puluh-dua-ribuan (32000).
  • Istri-pamanku yang ramah dengan istri pamanku-yang ramah

4. Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang diawali huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan -an, singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap.

Contoh:

  • Se-Jawa
  • Hadiah ke-2
  • Tahun 2000-an
  • Ber-SMP
  • KTP-nya bernomor 129101
  • Sinar-UV
  • Menteri-Sekretaris Negara

5. Tanda hubung digunakan untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Contoh:

  • Peng-cancel-an
  • Di-hack

6. Tanda hubung digunakan menyambung suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Contoh: Ayah bekerja di rumah sakit sebagai tenaga medis. Setiap harinya dia selalu berinteraksi dengan dokter ber-
pakaian putih yang juga bekerja di sana.

Tanda Pisah (–, —)

Berikut adalah penggunaan tanda baca ini dalam bahasa Indonesia.

1a. Tanda pisah em (—) digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang merupakan penjelasan khusus di luar bangun kalimat.

Contoh: Semut Aspal—blog kebanggaan saya—akan menjadi blog terbesar.

1b. Tanda pisah em (—) menegaskan adanya posisi atau keterangan lain sehingga kalimat menjadi lebih tegas dan jelas.

Contoh:

Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita mengenai alam semesta.

2a. Tanda pisah en (–) dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan, dan bisa juga dipakai di antara dua nama kota yang berarti “ke” atau “sampai”.

Contoh:

  • 1914–1918
  • Medan–Riau
  • 10–13 Desember 2017

2b. Tanda pisah en (–) tidak dipakai bersama kata “dari”, kata “antara”, dan tanda kurang (−).

Contoh:

  • Penjelasannya bisa dilihat dari halaman 55 hingga 65. Bukan, penjelasannya bisa dilihat dari halaman 55–65.
  • Kejadian itu berlangsung antara tahun 1592 dan 1599. Bukan, kejadian itu berlangsung antara tahun 1592–1599
  • Suhu Surakarta hari ini antara −4 dan −8 °C. Bukan, suhu Surakarta hari ini −4–−8 °C

Penggunaan Tanda Baca Elipsis (…)

1. Tanda elipsis digunakan pada kalimat yang terputus, misalnya untuk menuliskan naskah drama, sebagai contoh: Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.

2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa pada sebuah kalimat atau naskah ada bagian menghilang atau sengaja dihilangkan, misalnya dalam kutipan langsung. Contoh: Sebab-sebab kemerosotan ini adalah … akan diteliti lebih lanjut.

Jika bagian yang dihilangkan digunakan untuk mengakhiri sebuah kalimat, empat buah titik diperlukan; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu titik untuk menandai akhir kalimat.

Contohnya: Dalam sebuah karya tulis, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ….

Tanda Tanya (?)

1. Tanda tanya hanya dipakai untuk mengakhiri kalimat tanya.

Contoh:

  • Kapan kamu berangkat?
  • Kita sudah sama-sama tahu, bukan?

Penggunaan kalimat tanya tidak lazim digunakan dalam tulisan ilmiah.

2. Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat berita yang disangsikan kebenarannya.

Contoh:

  • Ia dilahirkan pada tahun 1969 (?)
  • Uangnya sebanyak 100 juta rupiah (?) hilang.

Tanda Seru (!)

Penggunaan tanda baca seru dipakai setelah kalimat perintah atau seruan yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, maupun emosi yang kuat.

Contoh:

  • Alangkah mengerikannya peristiwa itu!
  • Bersihkan meja itu, bung!
  • Sampai hati ia membuang anaknya!
  • Merdeka!

Oleh karena maksud penggunaannya, tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam karangan ilmiah atau ensiklopedia. Hindari penggunaan tanda seru apabila tidak digunakan dalam kutipan atau transkripsi drama.

Tanda Kurung ((…))

1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit sebuah penjelasan. Contoh: Departemen Keuangan menyusun rancangan anggaran tahunan yang akan dibahas dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) sesuai ketentuan.

2. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan, kegunaannya sama seperti tanda pisah yang telah saya jelaskan di atas.

Contoh:

  • Satelit Palapa (Palapa adalah sebuah sumpah yang dikemukakan Gajah Mada) membentuk sistem satelit domestik di Indonesia.
  • Pertumbuhan penjualan tahun ini (lihat tabel 9) menunjukkan bahwa terjadi perkembangan di pasar dalam negeri.

3. Tanda kurung dipakai untuk bagian yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.

Contoh:

  • Kata cocaine dalam bahasa Indonesia disebut sebagai kokain(a).
  • Pembalap itu berasal dari (kota) Semarang.

4. Tanda kurung digunakan untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Contoh: Bauran Pemasaran menyangkut masalah (a) harga, (b) produk, (c) tempat, dan (c) promosi.

Hindari penggunaan dua atau lebih tanda kurung berturut-turut. Ganti pemakaian tanda kurung tersebut dengan koma atau tulis ulang kalimatnya.

Contoh:

  • Tidak tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919) (yang juga dikenal sebagai Matviy Hryhoriyiv) merupakan salah satu pemimpin Ukraina.
  • Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919), dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv, merupakan salah satu pemimpin Ukraina.
  • Tepat: Nikifor Grigoriev (c. 1885–1919) merupakan salah satu pemimpin Ukraina. Dia dikenal juga sebagai Matviy Hryhoriyiv.

Penggunaan Tanda Baca Kurung Siku ([…])

Berikut adalah penggunaan tanda baca kurung siku.

1. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau frasa sebagai sebuah koreksi atau tambahan pada kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa sebuah kesalahan terdapat di dalam naskah asli.

Bahasa mudahnya, memperbaiki saltik. Agar jelas kesalahannya yang mana, digunakanlah tanda kurung siku. Contoh: Si Permai men[d]engar bunyi gemerisik.

2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang berada dalam tanda kurung. Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan lagi di sini.

Tanda Petik (“…”)

1. Tanda petik digunakan untuk mengapit sebuah petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Contoh:

  • “Saya belum punya pacar,” kata Mira, “jangan menggodaku!”
  • Pasal 35 UUD 1945 berbunyi, “Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih”.

2. Tanda petik digunakan untuk mengapit judul syair, karangan, atau bab buku dalam sebuah kalimat.

Contoh:

  • Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
  • Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” terbitan Tempo.
  • Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku tersebut.

3. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang populer atau kata yang mempunyai arti khusus.

Contoh:

  • Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “trial error” saja.
  • Ia gemar mengenakan celana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca apapun yang mengakhiri petikan langsung. Contoh: Kata Tono, “Aku juga mau. Sisakan satu buatku!”

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Contoh:

  • Karena warna rambutnya, Budi mendapat julukan “Si Gondrong”.
  • Kang Asep kerap disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Penggunaan Tanda Baca Petik Tunggal (‘…’)

1. Penggunaan tanda baca petik tunggal adalah untuk mengapit petikan yang berada di dalam sebuah petikan.

Contoh:

  • “Kau dengar bunyi ‘tok-tok’ tadi?” tanya Anto.
  • “Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriakan anakku, ‘Ibu, Ayah, aku pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hermawan.

2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan sebuah ungkapan asing. Contoh: feed-back ‘balikan’

Tanda Garis Miring (/)

1. Tanda garis miring digunakan di dalam penulisan nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Contoh penggunaan tanda garis miring yang tepat pada nomor surat adalah seperti di bawah ini.

  • Nomor: 24/IV/Kop/2019
  • No. 7/HJI/1973
  • Jalan Kebakkramat II/10, Karanganyar
  • Dia adalah pengurus DEMA 2005/2006

2. Tanda garis miring digunakan sebagai pengganti kata tiap, per, atau sebagai tanda bagi dalam pecahan dan juga rumus matematika.

Contoh:

  • Harganya Rp125,00/lembar (harganya Rp125,00 tiap lembar)
  • Kecepatannya 80 km/j (kecepatannya 80 kilometer per jam)
  • 1/2 atau ½
  • xn/n!

Tanda garis miring lebih baik tidak dipakai untuk menuliskan tanda aritmetika dasar dalam prosa. Pakailah tanda bagi ÷ . Contoh: 12 ÷ 2 = 6.

Di dalam rumus matematika yang lebih rumit, tanda garis miring dapat digunakan. Contoh: {\displaystyle \textstyle {\frac {x^{n}}{n!}}} \textstyle\frac{x^n}{n!}

3. Tanda garis miring sebaiknya tidak digunakan untuk mengganti kata atau.

Catatan: Tidak perlu memakai spasi sebelum dan setelah garis miring.

Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)

Apostrof digunakan untuk menujukkan bahwa terdapat bagian kata atau angka tahun tertentu yang dihilangkan.

Contoh:

Alfi ‘kan kusurati hari ini. (‘kan = akan)
Malam ‘lah tiba dan aku masih menunggu. (‘lah = telah)
Suasana pagi 1 Januari ’15. (’15 = 2015)

Tanda baca sebaiknya tidak kamu gunakan dalam teks prosa biasa.

Kesimpulan

Itulah macam-macam tanda baca yang sering kita temui hingga yang jarang. Masih banyak tanda baca lain yang belum dibahas. Untuk itu, postingan ini akan selalu diperbarui bila sempat.

Terima kasih.