SemutAspal

Daftar 36 Tari Tradisional Indonesia Paling Populer

Tarian, juga dikenal sebagai seni gerak pertunjukan, adalah ekspresi seni di mana gerakan tubuh diselaraskan dengan alunan alat musik. Tarian memiliki beragam fungsi, termasuk sebagai bentuk penyambutan tamu, peringatan acara khusus atau hari penting, serta dalam konteks ritual keagamaan.

Dalam praktiknya, tarian menggabungkan harmoni gerakan dan musik untuk mengkomunikasikan berbagai makna dan tujuan.

Pengertian tari tradisional adalah suatu tarian yang diciptakan oleh masyarakat suatu daerah dan secara turun-temurun telah menjadi budaya daerah tersebut. Di Indonesia, kesenian tradisional seperti tari-tarian memiliki peran penting dalam menjalin hubungan sosial dan merawat warisan budaya tradisional.

Tarian Tradisional Indonesia Terpopuler

Tari tradisional ini tersebar di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai keunikannya masing-masing. Kesenian daerah di Indonesia sangat beragam, berikut adalah beberapa tarian daerah dan asalnya.

1. Tari Yapong – Jakarta

Tari yapong
Tari yapong (ARIEF RAHARDJO, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Tarian yapong, sebuah jenis tarian kontemporer, menggambarkan semangat sukacita dan interaksi sosial yang hidup di kalangan masyarakat Betawi di Jakarta.

Gerakan yang terdapat dalam tarian ini, meskipun sederhana, tetap memancarkan dinamika yang kuat. Para penari yapong mengekspresikan kegembiraan dengan bermain-main dengan gerakan kaki dan tangan secara bergantian.

Tarian ini menampilkan beragam gerakan yang sangat beragam karena tari yapong merupakan salah satu jenis tari kontemporer yang terus berkembang.

Setiap pertunjukan tari yapong seringkali memperkenalkan kreasi baru yang memperkaya tarian ini dan memberikan variasi yang menarik bagi penonton.

2. Tari Jaipong – Jawa Barat

Siapa yang belum pernah melihat tari jaipong? Asal daerah tari jaipong adalah jenis tari dari Provinsi Jawa Barat. Tarian ini, yang dinamakan demikian karena menggabungkan elemen-elemen dari tari ketuk tilu, pencak silat, dan tari ronggeng, terkenal dengan gerakan-gerakan dinamis dan atraktifnya.

Umumnya, tarian ini dapat ditarikan oleh seorang penari tunggal atau dalam kelompok, dan seringkali dipentaskan dalam berbagai kesempatan mulai dari penyambutan tamu-tamu penting hingga acara festival budaya.

Jadi, pertunjukan tarian daerah di Jawa Barat dalam penyambutan tamu kehormatan dinamakan jaipong.

3. Tari Kecak – Bali

Tari kecak berasal dari daerah Bali. Bali dikenal tidak hanya karena kecantikan alamnya, tetapi juga karena kekayaan budayanya. Salah satu aspek budaya yang sangat populer di Bali adalah seni tari, khususnya tari kecak yang menggambarkan kisah epik Ramayana.

Tari kecak ini telah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang mengunjungi pulau Bali. Selain menjadi hiburan bagi pariwisata, tari kecak juga memiliki dimensi keagamaan.

Tarian ini sering disebut sebagai “tari sang hyang” karena sering dipentaskan dalam rangka upacara keagamaan di Bali. Pementasan tari kecak dibawakan secara berkelompok. Tari kecak menggunakan properti yang tidak terlalu banyak.

4. Tari Remong – Jawa Timur

Tari remong, juga dikenal sebagai tari remo, merupakan sebuah tari yang menggambarkan adegan pangeran yang bertempur dengan penuh semangat di medan tempur.

Dalam tarian ini, penari menghidupkan kisah seorang pangeran dengan gerakan yang penuh makna dan ekspresif, menciptakan gambaran yang kuat tentang peperangan dalam budaya dan seni pertunjukan tradisional.

Sehingga, salah satu contoh tari yang dibawakan secara perorangan adalah tari remo. Meski begitu, tari remo juga dapat dilakukan secara berkelompok.

Tari remong berasal dari daerah Jombang, Jawa Timur. Tarian ini berasal dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek. Tari remong menggunakan properti sabuk dan keris yang diletakkan di pinggang. Slendang menggantung di paha sebelah kanan sampai ke mata kaki.

Tari remong sering kali menjadi bagian awal dari pertunjukan seni Ludruk, atau bahkan digunakan sebagai tarian penyambutan tamu yang datang. Tarian ini biasanya ditarikan oleh penari pria dengan gerakan penuh keberanian dan kegagahan.

5. Tari Pendet – Bali

Selain tari kecak, tari pendet berasal dari daerah Bali juga. Tarian pendet, yang sering dikenal sebagai tarian penyambutan khas Bali, adalah tarian yang umumnya digunakan sebagai bentuk selamat datang.

Ciri khas utama dari tarian ini adalah penari pendet yang membawa mangkuk berisi bermacam bunga sebagai bagian integral dari pertunjukan mereka. Tari pendet biasanya dibawakan oleh penari wanita.

Tari pendet awalnya adalah sebuah tarian sakral yang dilakukan dalam rangkaian upacara keagamaan. Tarian ini muncul sebagai ungkapan penghormatan dan rasa syukur terhadap dewata yang diyakini turun dalam upacara tersebut.

6. Tari Gambyong – Jawa Tengah

Salah satu ciri khas masyarakat Jawa yang dikenal penuh kelembutan dan luwes adalah melalui seni tari tradisional yang disebut tari gambyong.

Tari gambyong adalah sebuah bentuk seni yang mencerminkan keluwesan dan kelembutan yang menjadi karakteristik budaya Jawa. Tari gambyong dibawakan secara berkelompok.

Tarian gambyong, dengan gerakan indah dan anggun, biasanya dipentaskan oleh sekelompok penari wanita. Di Keraton Surakarta, tari ini sering digunakan sebagai tari penyambutan tamu dan hiburan.

7. Tari Serimpi – D.I Yogyakarta

Tari serimpi merupakan tarian klasik yang bersifat sakral. Tari serimpi adalah sebuah tarian yang mencerminkan sifat kelemahlembutan dan kesopanan melalui gerakan-gerakannya yang lembut dan perlahan.

Tarian ini pada awalnya hanya dipentaskan di dalam Keraton Yogyakarta sebagai bagian dari upacara kenegaraan dan upacara penobatan Sultan.

Karakter sakral dari tarian ini mengakibatkan penarinya harus dipilih dari kalangan keluarga bangsawan. Namun, setelah pecahnya Kerajaan Mataram, terjadi perubahan dalam gerakan tarian ini meskipun esensi dan makna dasarnya tetap terjaga.

8. Tari Tortor – Sumatera Utara

Tortor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan iringan musik gondang. Secara fisik tor-tor merupakan tarian, namun jika dilihat lebih jauh, tor tor adalah sebuah media komunikasi. Sebab, melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara.

Tortor dan musik gondang ibarat 2 sisi koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara terbuka untuk umum, terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan.

Tari tor tor dibawakan secara berpasangan maupun berkelompok.

9. Tari Saman – Aceh

Tari saman berasal dari daerah Aceh.Tarian saman, sebuah pertunjukan yang melibatkan sekelompok penari dengan jumlah ganjil, telah mencapai ketenaran internasional karena elemen-elemen unik yang membedakannya.

Ciri khas utama dari tarian ini adalah penggunaan tangan para penari untuk membuat suara dan gerakan yang harmonis. Berbeda dengan kebanyakan tarian tradisional yang melibatkan gerakan bebas atau berdiri, tarian saman ditarikan secara duduk.

Dalam penampilan tarian ini, penari memiliki peran yang beragam, seperti menyanyikan lagu, mengaum, dan melaksanakan tugas-tugas lainnya, yang semuanya berkontribusi pada kekayaan ekspresi tarian ini.

Dalam pertunjukan tari saman, irama musik diiringi oleh penari yang menyanyikan lagu dan mengeluarkan tepuk tangan, seringkali dengan menambahkan elemen pukulan ringan pada pangkal paha dan dada mereka.

Gerakan ini dijalankan dengan penuh sinkronisasi, memadukan langkah-langkah serta gerakan badan yang dihentakkan ke segala arah.

10. Tari Piring – Sumatera Barat

Asal daerah tari piring adalah Sumatera Barat. Tarian tradisional dari Minangkabau ini menampilkan sebuah pertunjukan tari yang sangat istimewa karena mengutamakan penggunaan piring sebagai properti tari.

Para penari yang mengambil bagian dalam tarian ini membawa piring di kedua telapak tangan mereka dan melakukan gerakan yang teratur dan cepat dengan piring-piring tersebut. Tarian ini kerap ditampilkan dalam beragam event.

11. Tari Cokek – Jakarta

Tari cokek merupakan hasil akulturasi budaya antara suku Betawi, Tiongkok, dan Banten di Jakarta. Interaksi antara Suku Betawi dengan budaya lainnya di kota ini telah memberikan kontribusi pada perkembangan seni tari cokek.

Nama tarian ini, “cokek” merupakan istilah Hokkian, yang artinya adalah “menyanyikan lagu”. Pertunjukan tari cokek biasanya dilakukan dalam acara-acara pertunjukan atau hiburan.

Para penari cokek menampilkan gerakan tarian sekaligus menyanyikan lagu, semuanya diiringi alunan instrumen gambang kromong.

12. Tari Indang – Sumatera Barat

Tari indang, juga dikenal sebagai dindin badindin, adalah sebuah seni pertunjukan yang berasal dari daerah Sumatera Barat, terutama Pariaman. Seni tari ini memiliki sejarah yang kuat dalam penyebaran Islam di Sumatera Barat, yang dipelopori oleh Syekh Burhanudin.

Filosofi tarian indang sangat terkait dengan budaya Islam Minang. Pertunjukan tari indang biasanya diiringi oleh alunan Shalawat Nabi atau syair yang mengangkat ajaran Islam. Acara ini sering kali dipentaskan sebagai bagian dari peringatan wafatnya cucu Rasulullah pada tanggal 10 Muharram.

Dalam penampilan tari dindin badindin ini, penari pria biasanya tampil dalam jumlah ganjil, seperti 7, 9, 11, atau 13 orang. Gerakan dalam tarian ini terinspirasi oleh tari saman dari Aceh, tetapi memiliki kelebihan dalam kelembutan gerakan yang ditampilkan.

13. Turuk Langgai – Sumatera Barat

Meskipun kurang dikenal dibandingkan dengan tarian-tarian daerah lain yang dibahas dalam artikel ini, turuk langgai, tarian khas suku Mentawai, mulai meraih pengakuan yang lebih luas seiring dengan meningkatnya popularitas Mentawai sebagai destinasi wisata air bertaraf internasional.

Tari ini terinspirasi oleh gerakan alamiah hewan seperti ular, ayam, burung, dan monyet, yang diungkapkan melalui gerakan yang dinamis dan mengagumkan. Dalam pertunjukannya, turuk langgai diiringi oleh instrumen tradisional Mentawai seperti gendang kajeuma serta uliat.

14. Tari Sekapur Sirih – Jambi

Tari sekapur sirih, yang merupakan sebuah tarian tradisional dari Provinsi Jambi, dikenal sebagai tarian selamat datang yang disertai oleh irama langgam Melayu. Tarian ini pertama kali diciptakan oleh seniman terkenal Firdaus Chatap pada 1962.

Dalam penampilannya, sekapur sirih melibatkan 9 penari wanita dan 3 penari pria. Dalam kelompok penari pria, satu di antaranya membawa sebuah payung sementara dua penari lainnya merupakan pengawal.

Sementara itu, penari perempuan memvisualisasikan seorang gadis yang tengah berdandan. Poin fokus dari tari ini adalah menyambut datangnya tamu dengan menyajikan sirih dan kapur sebagai tanda penghormatan dan selamat datang.

15. Tari Legong – Bali

Tari legong merupakan sebuah tarian klasik tradisional yang berasal dari pulau Bali, Indonesia, dan pertama kali diciptakan pada abad ke-19. Cerita yang melekat pada asal-usul tari legong mengisahkan tentang pangeran yang sakit dan mimpinya yang menginspirasi penciptaan tarian ini.

Dalam mimpinya, pangeran tersebut melihat dua gadis yang mempesona sedang menari dengan diiringi oleh irama indah gamelan. Salah satu ciri khas yang membedakan tari legong adalah gerakannya yang sangat kompleks, yang selaras dengan irama dan melodi gamelan.

Tarian ini sering diiringi oleh alat musik tradisional Bali yang dikenal sebagai gamelan semar pagulingan. Bali memiliki banyak jenis tari legong, terutama di Bali bagian selatan.

Tari legong merupakan tarian tradisional Bali yang memiliki berbagai variasi. Salah satu variasi yang cukup terkenal yaitu legong lasem (kraton), yang biasanya ditampilkan oleh seorang penari condong dan dua penari legong.

Selain legong lasem, terdapat pula variasi lain seperti ledog bawa, legong jobog, kuntul, sudarsana, dan smaradahana yang juga menarik perhatian dalam dunia seni tari Bali.

16. Tari Bungong Jeumpa – Aceh

Lagu pengiring tari ini pertama kali dibawakan dalam perhelatan Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang.

Tarian tradisional khas Aceh ini, yang dikenal dengan gerakan sederhana berupa duduk dan berdiri secara bergantian, turut dipersembahkan oleh para penari sambil mengiringi dengan nyanyian lagu Bungong Jeumpa.

Lagu ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat Aceh, menjadi simbol keindahan dan kesuburan tanah mereka, sebagaimana bunga Bungong Jeumpa yang memiliki beragam warna dan dianggap sebagai lambang kecantikan.

Tarian Bungong Jeumpa ini biasanya dilakukan oleh sekelompok penari, menciptakan kesan kebersamaan dan harmoni yang menggambarkan budaya Aceh dengan indahnya.

17. Tari Lilin – Sumatera Barat

Tari lilin berasal dari daerah Sumatera Barat. Tarian lilin, yang sering kali dipentaskan untuk merayakan malam ke-21 dalam bulan Ramadan, menggambarkan pasangan penari yang menari dengan penuh semangat sambil membawa lilin yang menyala pada piring kecil.

Asal usul tarian ini dapat ditelusuri ke dalam cerita rakyat Minangkabau, menceritakan kisah gadis yang ditinggalkan oleh tunangannya dan kemudian cincin pertunangannya hilang.

Dalam usahanya mencari cincin tersebut sampai larut malam, gadis itu memakai lilin yang diletakkan pada piring, dengan gerakan tubuhnya yang lentur seolah menari.

Gerakan ini menjadi ciri khas dari tarian lilin, di mana para penari memperagakan gerakan yang indah sambil menjaga agar api lilin tetap menyala dengan sempurna.

18. Tari Yospan – Papua

Tarian Yospan, yang memiliki akar dari Pulau Papua, telah menjadi salah satu tarian yang sangat terkenal di seluruh Indonesia. Awalnya, popularitasnya mulai berkembang di Papua pada tahun 1980-an. Nama “Yospan” sendiri merupakan singkatan dari gabungan dua kata, yaitu “yosim” dan “pancar.”

Secara historis, Tari Yosim berasal dari dua daerah berbeda, yaitu Sarmi dan Biak. Tari Yosim dari Sarmi adalah bentuk tarian sukacita yang sering dipentaskan dalam berbagai acara kebahagiaan.

Sementara itu, Tari Pancar yang diiringi oleh alat musik tifa berasal dari Biak, muncul melalui proses akulturasi antara budaya asli Biak dan budaya luar Biak. Tarian Yospan menggambarkan semangat persahabatan dalam masyarakat Papua.

Tarian ini biasanya dipersembahkan oleh baik pria maupun wanita. Para pria mengenakan celana pendek, dada terbuka, dan menghiasi kepala dengan bulu-bulu burung. Di sisi lain, wanita mengenakan sarung tenun yang menutupi dada dan menghiasi kepala dengan bunga serta bulu-bulu burung.

19. Tari Ranup Lampuan – Aceh

Tari ranup lampuan adalah sebuah tarian tradisional khas Aceh dan memiliki makna khusus dalam budaya Aceh, karena istilah “ranup lampuan” berasal dari bahasa Aceh yang berarti “sirih dalam puan”, dengan “puan” merujuk kepada wadah khas Aceh untuk sirih.

Dalam koreografi tari ranup lampuan, tarian ini menggambarkan cara orang Aceh menyambut datangnya tamu dengan menghadirkan sirih sebagai simbol penerimaan.

Gerakan dalam tari ranup lampuan melibatkan berbagai langkah, seperti memberikan salam sembah, mengambil sirih, memisahkan tangkai sirih, membersihkan sirih, menyebarkan kapur, memberikan pinang dan gambir, dan akhirnya menyuguhkan sirih tersebut kepada tamu yang datang.

Tarian ini umumnya dipentaskan oleh wanita sebagai bentuk penyambutan yang istimewa bagi tamu terhormat.

20. Tari Ronggeng Blantek – Jakarta

Ronggeng blantek, sebuah tari daerah yang populer di Jakarta, memiliki ciri khas tempo yang cepat dan energik. Awalnya, tarian ini menjadi bagian pembuka dalam pertunjukan teater lokal Betawi yang dikenal sebagai Topeng Blantek.

Para penari perempuan memainkan peran utama dalam tarian ini, sementara musik mendukungnya dengan alat-alat musik khas Betawi misalnya terompet, baritone, trombone, gong, simbal, gendang, dan tehyan.

21. Tari Topeng – Jawa Barat

Tari topeng, sebuah tarian tradisional dari daerah Cirebon, telah meraih popularitas yang luas di kalangan masyarakat. Keberhasilan tarian ini dalam menarik perhatian bukanlah hal baru, bahkan pada masa lalu, Sunan Gunung Jati menggunakannya sebagai alat dakwah Islam di Jawa Barat.

Tari topeng melibatkan penampilan para penari dengan penggunaan lima jenis topeng, masing-masing diberi nama dan melambangkan berbagai karakteristik unik.

Sebagai contoh, topeng panji melambangkan kebersihan seorang bayi dari dosa, sementara topeng pamindo menggambarkan sosok ksatria yang gagah, dan topeng patih mencerminkan kedewasaan seseorang.

22. Tari Reog – Jawa Timur

Tari reog merupakan sebuah tarian tradisional khas daerah Ponorogo, Jawa Timur, dan telah mencapai ketenaran internasional.

Pertunjukan tari ini melibatkan sekelompok pria yang mengenakan topeng kepala singa yang dihiasi dengan bulu-bulu indah burung merak, dengan topeng tersebut memiliki berat hingga 50 kilogram.

Tarian reog ini awalnya diciptakan Ki Ageng Kutu, pengikut Raja Majapahit Bhre Kertabhumi. Ki Ageng Kutu kemudian memanfaatkan reog sebagai alat untuk menyampaikan sindiran kepada raja yang korup dan terpengaruh oleh budaya China.

Hal ini tergambar dalam elemen-elemen tarian, seperti singa barong yang melambangkan raja dan penggunaan bulu merak yang mencerminkan pengaruh dari China.

23. Tari Bedhaya – D.I Yogyakarta

Yogyakarta, sebuah daerah di Indonesia yang dikenal karena kekayaan budayanya, juga memiliki warisan seni tarian yang menarik. Salah satu tari tradisional yang sangat terkenal di Yogyakarta yaitu tari bedhaya.

Pada awalnya, tarian ini hanya dipentaskan di dalam istana kraton. Tarian bedhaya memiliki tema yang mengangkat sosok yang diyakini merupakan Nyi Roro Kidul.

Gerakan-gerakan tarian ini cenderung anggun dengan tempo yang lambat, dan salah satu variasinya adalah tari bedhaya ketawang. Tarian bedhaya ketawang selalu diiringi oleh perangkat gamelan yang lengkap.

24. Tari Jaran Kepang – Jawa Timur

Tari daerah ini adalah unsur dalam tari reog yang telah dijelaskan sebelumnya. Disebut juga sebagai tari kuda lumping atau tari jatilan, tari jaran kepang adalah tarian yang menyebar di Pulau Jawa.

Tarian ini melibatkan penggunaan properti berupa anyaman kulit binatang dan bambu yang membentuk figur kuda. Koreografi tarian ini menggambarkan keberanian prajurit Majapahit.

Salah satu aspek unik dari jaran kepang adalah kemampuan penarinya untuk mengalami kesurupan, yang kemudian mengakibatkan mereka melakoni aksi berbahaya misalnya mengupas kelapa menggunakan gigi atau memakan pecahan kaca.

25. Tari Gong atau Kancet Ledo – Kalimantan Timur

Tarian gong, yang berasal dari Kalimantan Timur, dikenal karena keunikan busananya, kelengkapan geraknya, dan penampilan yang indah. Tarian ini awalnya dilakukan oleh para penari wanita yang mengenakan pakaian Dayak Kenyah sambil menari di atas gong, sehingga disebut tari gong.

Tak hanya sebagai representasi keseimbangan dalam kehidupan, tarian ini juga merupakan simbol dari karakter wanita Dayak yang mempesona, cerdas, dan menarik.

26. Tari Tempurung – Sulawesi Utara

Tarian tradisional khas Sulawesi Utara memiliki elemen yang khas, yaitu penggunaan tempurung kelapa sebagai salah satu propertinya. Suara yang dihasilkan dari memukul tempurung kelapa dalam tarian ini memiliki karakteristik khusus yang mencirikan keseluruhan pertunjukan.

Selain itu, tarian ini juga mengandung makna yang sangat mendalam. Melalui gerakan dan ritme yang tercipta, tarian ini mengungkapkan rasa syukur dan penghargaan kepada petani karena hasil panen buah kelapa yang telah mereka peroleh.

27. Tari Saureka Reka – Maluku

Pada awalnya, tari saureka reka digelar sebagai ucapan rasa syukur ketika musim panen sagu oleh empat pemuda dan empat pemudi. Dalam penampilannya, para penari menggunakan beberapa properti penting, yaitu tifa, totobuang, dan gaba-gaba.

Gaba-gaba khususnya digunakan oleh pemuda dalam tarian ini, sementara pemudi menghindarinya. Sementara itu, totobuang dan tifa berperan sebagai alat musik pengiring selama penampilan tarian.

28. Tari Awaijale Rilejale – Papua

Tari awaijale rilejale merupakan tarian khas daerah Sentani, Kab. Jayapura, Prov. Papua, dan melibatkan sekelompok wanita dan pria yang menarikannya.

Dalam penampilannya, para penari mengenakan pakaian adat khas Papua yang disebut Pea Malo, yang terbuat dari kulit kayu, daun sagu, dan serat pohon genemo. Mereka juga memadupadankan perhiasan hamboni untuk memberikan sentuhan etnik pada penampilan mereka.

Tarian ini menceritakan kecantikan Danau Sentani saat senja, sambil mengisahkan kisah warga yang kembali dari pekerjaan mereka dengan naik perahu.

29. Tari Gandrung Lombok – Nusa Tenggara Barat

Tari gandrung adalah sebuah bentuk seni tari tradisional khas Pulau Lombok. Dalam penampilannya, tari gandrung melibatkan sekelompok penari wanita yang menari dengan diiringi oleh ansambel gamelan yang khas.

Selain gerakan tari, pertunjukan ini seringkali disertai oleh nyanyian dan puisi yang menghidupkan suasana. Meskipun disebut dengan nama yang serupa, tarian gandrung dari Lombok menunjukkan perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan tari gandrung yang dapat ditemukan di Jawa dan Bali.

Perbedaan utama terletak pada gerakan yang digunakan, kostum yang dikenakan, dan cara penyajian pertunjukannya.

Tari gandrung memiliki akar sejarah yang menarik, dimulai dengan penggunaannya untuk menghibur prajurit yang kembali dari medan tempur. Dalam penampilan yang mengesankan dengan iringan gamelan, penari wanita akan mengundang para prajurit satu per satu untuk menari berpasangan.

30. Tari Caci – Nusa Tenggara Timur

Tari caci, seringkali disebut sebagai tarian perang, merupakan pertunjukan yang melibatkan dua penari pria yang bersenjatakan perisai dan cambuk. Dalam tarian ini, satu penari berperan sebagai penyerang dengan cambuk, sementara yang lain berperan sebagai pertahanan dengan menggunakan tameng.

Biasanya, tarian caci menjadi bagian integral dalam berbagai acara, termasuk syukuran panennya, upacara tahun baru, pembukaan lahan, dan penyambutan tamu-tamu penting.

31. Tari Kipas Pakarena – Sulawesi Selatan

Tari kipas pakarena, yang berakar dari daerah Gowa di Sulawesi Selatan, adalah sebuah tarian yang memancarkan karakteristik khas perempuan Gowa, yang dikenal sebagai perempuan yang sopan, patuh, dan memiliki penghormatan yang tinggi terhadap pria, terutama terhadap suami mereka.

Tarian ini memiliki aturan unik yang mengatur gerakannya. Para penari tari kipas pakarena harus menjaga agar mata mereka tidak terbuka terlalu lebar dan tidak mengangkat kaki terlalu tinggi. Selain itu, pertunjukan tarian ini umumnya berlangsung selama dua jam.

32. Tari Paduppa Bosara – Sulawesi Selatan

Tari padduppa bosara merupakan sebuah tarian penyambutan khas dari masyarakat Bugis-Makassar yang menggunakan bosara sebagai propertinya. Bosara adalah wadah tradisional yang digunakan untuk menyajikan makanan seperti kue atau lauk.

Tarian ini memiliki sejarah panjang dan tradisionalnya, dipentaskan dalam berbagai konteks budaya, termasuk penyambutan raja, penerimaan tamu agung, upacara adat, dan perayaan pernikahan.

Dalam budaya Bugis-Makassar, bosara memiliki peran penting dalam berbagai acara kebudayaan dan tradisional sebagai wadah untuk hidangan istimewa.

33. Tari Lego Lego – Nusa Tenggara Timur

Tarian lego-lego, sebuah tarian tradisional khas Kabupaten Alor, NTT, mengundang masyarakat untuk bersatu dalam upaya membangun negeri dan kampungnya. Tarian ini umumnya dibawakan oleh para anak muda dalam upacara adat.

Dalam pertunjukan ini, para peserta, baik perempuan maupun lelaki, memakai kain tradisional, sedangkan orang tua menyanyi dan berpantun sebagai pengiring tarian tersebut.

34. Tari Tide Tide – Maluku Utara

Tide tide adalah tarian tradisional khas Halmahera Utara di Provinsi Maluku Utara. Tari ini menggambarkan pergaulan antara wanita dan pria dalam budaya Halmahera dan sering ditarikan oleh pasangan pada berbagai acara adat, penyambutan, serta pernikahan.

Dalam pertunjukannya, penari-penari ini biasanya menyertai langkah-langkah mereka dengan alunan suara instrumen tradisional seperti biola, tifa, dan gong.

35. Tari Selamat Datang – Papua

Tarian selamat datang khas Papua Timur adalah ekspresi rasa hormat, kebahagiaan, dan syukur masyarakat Papua saat menyambut tamu. Biasanya, tarian ini dipentaskan oleh sekelompok wanita yang membentuk lingkaran untuk menari dan bernyanyi bersama.

Selama pertunjukan, para penari wanita akan menjemput tamu dengan memberikan kalung dan penutup kepala sebagai tanda penghormatan.

Sementara itu, peran para pria dalam tarian ini biasanya dimulai setelah pertunjukan berjalan sebentar. Para pria ikut berputar dalam lingkaran dan kadang-kadang mengangkat panah, tombak, atau senjata khas mereka sebagai bagian dari ekspresi kebanggaan mereka.

36. Tari Sajojo – Papua

Tarian sajojo, sebuah tarian tradisional dari Papua, sering dipentaskan dalam berbagai acara adat dan budaya tanpa asal usul yang pasti. Berdasarkan beberapa sumber, tari ini pertama kali muncul sekitar dekade 1990-an.

Penamaan tarian ini diambil dari lagu pengiringnya, yaitu Sajojo, sebuah lagu daerah Papua yang mengangkat kisah seorang perempuan desa yang cantik. Kostum yang digunakan dalam tarian ini mirip dengan kostum tari tradisional Papua umumnya, terbuat dari bahan seperti akar maupun daun.


Dapatkan berita terbaru! Ikuti kami di Google News dan dapatkan kabar terupdate langsung di genggaman.

Promo garansi Shopee
Yosua Herbi
Herbi adalah seorang Web Developer asal Jawa Tengah lulusan D-3 Manajemen Informatika. Memiliki pengalaman dan kecintaan di bidang geopolitik, keuangan, pemrograman, digital marketing, dan sosial.
Logo SemutAspal